Investor Wait and See, IHSG Tertekan Demo di DPR | IVoox Indonesia

Investor Wait and See, IHSG Tertekan Demo di DPR

Head of Research & Chief Economist Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist Rully Arya Wisnubroto. IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai investor masih bersikap hati-hati menghadapi tekanan pasar domestik dan ketidakpastian eksternal. Sikap tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 1,5 persen ke level 6.405.

Ia mengatakan, investor cenderung mengambil posisi wait and see menjelang aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI. Menurutnya, dampak aksi terhadap pasar saham akan sangat bergantung pada skala dan perkembangan demonstrasi.

“IHSG masih menghadapi risiko dari sisi domestik dan eksternal. Kami melihat Rupiah dan foreign flow sebagai indikator utama untuk menilai apakah risiko dari agenda domestik mulai berdampak lebih luas terhadap pasar,” ujar Rully dalam keterangan resmin yang diterima Ivoox.id Jumat (28/8/2026).

Ia menjelaskan, jika demonstrasi berlangsung tertib, dampaknya terhadap pasar diperkirakan cenderung sementara. Namun, perkembangan aksi tetap menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi persepsi terhadap stabilitas domestik.

Selain faktor dalam negeri, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang masih tinggi membuat peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka. Kondisi tersebut turut menjaga imbal hasil US Treasury pada level tinggi.

Di pasar saham domestik, sejumlah saham menjadi penekan IHSG, antara lain BBRI, BRPT, dan AMMN. Sebaliknya, saham EMAS dan MDKA kembali memberikan dukungan terhadap indeks seiring harga emas yang bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan.

Menurut Rully, arah kebijakan Bank Indonesia juga menjadi faktor penting bagi prospek pasar ke depan. Presentasi fit and proper test Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI memberikan sinyal awal mengenai kemungkinan kebijakan yang lebih berorientasi pada pertumbuhan atau pro-growth.

Namun, volatilitas Rupiah dan ketidakpastian global masih menjadi faktor yang membatasi ruang penurunan suku bunga. Meski demikian, bauran kebijakan yang mendukung pertumbuhan dinilai berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar saham, terutama sektor perbankan dan sektor domestik yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Rully mengingatkan kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat tetap perlu diperhatikan dalam melihat prospek sektor tersebut.

0 comments

    Leave a Reply