Indonesia Soroti Ancaman Ketahanan Air di Forum Global

IVOOX.id – Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nasir menyoroti munculnya ancaman baru dalam upaya meningkatkan ketahanan air untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
"Sebuah ancaman baru yang diremehkan sedang muncul," kata Arrmanatha dalam rangkaian Konferensi Internasional Tingkat Tinggi ke-4 terkait Dekade Aksi Internasional "Air untuk Pembangunan Berkelanjutan" pada 25-28 Mei di Dushanbe, Tajikistan, pada keterangannya di Kemlu RI, Kamis (28/5/2026), dikutip dari Antara.
Dia menyatakan ancaman baru tersebut di antaranya penambangan mineral penting, infrastruktur AI, pusat data, dan industri digital yang kini mengonsumsi miliaran liter air setiap hari. Dan kebutuhan untuk sektor-sektor tersebut, kata dia, meningkat dua kali lipat setiap beberapa tahun.
Menurut dia, air adalah sumber daya tak terlihat yang menggerakkan ekonomi digital. Jika penanganan secara strategis gagal dilakukan, maka air akan menjadi krisis global utama.
Terlebih sistem multilateral yang diandalkan masyarakat internasional untuk menghadapi krisis ini justru sedang mengalami krisis. Oleh karena itu, dia menilai reformasi PBB saat ini perlu fokus dalam membahas upaya mengatasi ancaman krisis air.
Arrmanatha menegaskan bahwa Indonesia sepenuhnya menyadari beratnya tantangan yang dihadapi bersama masyarakat internasional. Indonesia juga akan terus berupaya memimpin aksi dengan memberi contoh, baik di tingkat regional dan global.
Sejak Forum Air Dunia ke-10 di Bali pada 2024, Indonesia telah mendirikan Pusat Keunggulan untuk Ketahanan Air dan Iklim.
Dalam dua tahun terakhir, Indonesia telah memberikan pelatihan peningkatan kapasitas tentang ketahanan air dan iklim kepada lebih dari 2.000 individu dari lebih dari 40 negara di seluruh Asia Pasifik.
Indonesia juga memelopori Resolusi Majelis Umum PBB tentang Hari Danau Sedunia, yang memperjuangkan perlindungan ekosistem danau secara global.
Indonesia, katanya lebih lanjut, menempatkan infrastruktur air sebagai pusat pembiayaan nasional strategis, termasuk melalui lembaga dana kekayaan negara, Danantara, untuk membuka efek pengganda di berbagai sektor.
Dalam konteks itu, Arrmanatha, dalam konferensi tersebut, menyampaikan empat seruan untuk memajukan implementasi komitmen Indonesia terhadap air: Pertama adalah perlunya upaya memperkuat kerja sama regional di bidang air.
Kedua adalah perlunya upaya meningkatkan investasi strategis di bidang air sebagai landasan pembangunan. Ketiga adalah perlunya upaya mempersiapkan tata kelola air untuk masa depan di era AI dan ekonomi digital.
Dan keempat adalah perlunya upaya untuk secara aktif mendorong reformasi PBB agar memiliki wewenang, sumber daya, dan kesetaraan untuk benar-benar mengatasi masalah air.
"Dunia memiliki pengetahuan, modal, dan teknologi. Yang kurang adalah kemauan politik kolektif, dan sistem multilateral yang efektif dan cukup berani untuk mempercepat tindakan menangani isu air," katanya.


0 comments