Indef Peringatkan Konflik AS-Israel dan Iran Berpotensi Perlebar Defisit APBN | IVoox Indonesia

3 Maret 2026

Indef Peringatkan Konflik AS-Israel dan Iran Berpotensi Perlebar Defisit APBN

aksi unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York
Sejumlah warga kota membentangkan poster saat aksi unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York, Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026). Ratusan warga New York berkumpul di Times Square dan berjalan di sepanjang jalan-jalan di Kota New York untuk memprotes serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada hari Sabtu. ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Fengguo/nz

IVOOX.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah berisiko memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menyatakan dampak ekonomi dari konflik ini akan masuk ke Indonesia melalui kombinasi tiga kanal utama, yaitu energi, keuangan, dan logistik.

Rizal menyoroti risiko gangguan pasokan di kawasan Teluk, terutama di jalur vital Selat Hormuz, dapat menaikkan premi risiko minyak dan LNG dunia yang berdampak langsung pada biaya impor energi Indonesia.

"Bagi Indonesia yang masih berstatus net-importir minyak dan LPG, kenaikan harga global ini akan cepat mendorong inflasi melalui kenaikan ongkos transportasi, listrik, dan logistik pangan," ujar Rizal, Senin (2/3/2025), dikutip dari Antara.

Ia menambahkan pelemahan rupiah akibat fase risk-off global, ketika modal keluar dari pasar negara berkembang akan memperburuk tekanan. Kondisi ini membuat impor energi dalam rupiah semakin mahal.

Dari sisi fiskal, Rizal menjelaskan pemerintah menghadapi dilema antara menahan harga energi dengan konsekuensi subsidi membengkak, atau menyesuaikan harga domestik yang berisiko menekan daya beli masyarakat.

Menurut dia, kombinasi belanja negara yang naik, penerimaan melemah, dan biaya pembiayaan yang lebih mahal ini berpotensi memperlebar defisit APBN.

“Sehingga respons yang diperlukan adalah menjaga stabilitas nilai tukar, realokasi belanja non-prioritas, dan memperkuat perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran dibanding mempertahankan subsidi energi secara luas,” kata Rizal.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan serangan Israel ke Iran bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.

Faisal menjelaskan saat ini harga minyak berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, jika konflik berlanjut, harga bisa naik ke 80 dolar AS per barel, bahkan menembus 100 dolar AS per barel apabila pasokan di Selat Hormuz terganggu.

Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel harga minyak di atas asumsi APBN akan membuat belanja negara bertambah Rp10,3 triliun.

Adapun asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2026 adalah 70 dolar AS per barel.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan melaporkan APBN mencetak defisit sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per 31 Januari 2026, meski pendapatan negara tumbuh positif 20,5 persen (year-on-year/yoy).

Realisasi pendapatan negara tercatat Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.

0 comments

    Leave a Reply