INDEF: Kenaikan Harga Pertamax Berisiko Tekan Daya Beli Kelas Menengah

IVOOX.id – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi tersebut.
Dalam diskusi publik di Jakarta, Minggu (14/6/2026), Abra menjelaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal, mulai dari kenaikan harga minyak mentah dunia, peningkatan Indonesian Crude Price (ICP), hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Memang ada dilema yang dihadapi baik oleh Pertamina maupun pemerintah ketika terjadi kenaikan harga Pertamax yang notabene merupakan BBM non-subsidi,” kata Abra dalam diskusi publik secara daring pada Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, rata-rata ICP sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai US$91,8 per barel atau sekitar 31,14 persen lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN 2026 yang berada di level US$70 per barel. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS turut meningkatkan biaya produksi BBM.
Abra menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak tepat jika langsung dikaitkan dengan kondisi fiskal pemerintah. Menurutnya, kaitan dengan APBN lebih relevan apabila yang mengalami kenaikan adalah BBM bersubsidi.
“Kalau harga Pertalite ataupun soal subsidi naik, baru mungkin itu relevan kita mengaitkan dengan fiskal,” ujarnya.
Meski demikian, dampak ekonomi dari kenaikan harga Pertamax tetap dinilai signifikan. Kenaikan harga dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter diperkirakan akan meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga, khususnya pada sektor transportasi.
Berdasarkan data yang dipaparkan INDEF, porsi pengeluaran transportasi rumah tangga di Indonesia mencapai 12,46 persen dari total pengeluaran. Angka tersebut bahkan melampaui 16 persen di sejumlah wilayah penyangga Jakarta seperti Depok dan Bekasi.
“Ketika terjadi kenaikan harga pembelian Pertamax 30 persen, artinya mereka harus merogoh kocek yang lebih besar dan akan mengurangi porsi belanja untuk kebutuhan yang lain,” katanya.
Di sisi lain, INDEF mencatat adanya tren peningkatan konsumsi BBM non-subsidi dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan harian Pertamax sepanjang 2025 tumbuh 20,6 persen, sementara Pertamax Turbo meningkat hingga 76,6 persen. Sebaliknya, penjualan Pertalite turun sekitar 5,3 persen.
Menurut Abra, tren tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang beralih ke BBM berkualitas lebih tinggi. Namun, kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong sebagian konsumen kembali menggunakan Pertalite sehingga pemerintah perlu memastikan pasokan BBM subsidi tetap aman.
Selain itu, INDEF mendorong percepatan reformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Abra menyoroti masih besarnya porsi subsidi dan kompensasi BBM yang dinikmati kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.
“Sebanyak 36 persen subsidi dan kompensasi BBM masih dinikmati oleh tiga kelompok masyarakat teratas. Ini menjadi persoalan serius yang harus diselesaikan,” ujarnya.
INDEF juga meminta pemerintah meningkatkan transparansi formula harga BBM serta memperkuat dukungan bagi kelas menengah melalui subsidi transportasi publik dan berbagai stimulus ekonomi bagi pekerja berpenghasilan rendah hingga menengah.


0 comments