IHSG Trading Halt dan Rupiah Tembus Rp18.021 Setelah Pengumuman MSCI Soal Usulan Perubahan Bursa RI

IVOOX.id – MSCI mengumumkan untuk membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) ke Standalone Market (pasar mandiri).
IHSG dibuka melemah 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 atau mengalami trading halt. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 49,14 poin atau 8,33 persen ke posisi 540,95.
"Apabila support 5.828 ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut untuk menutup gap di area 5.805-5.744 dan 5.704-5.695, dengan level 5.700 menjadi support psikologis berikutnya. Jika level tersebut turut jebol, IHSG berisiko melemah lebih dalam menuju 5.300, yang merupakan area previous low," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (16/10/2026), dikutip dari Antara.
Dari dalam negeri, MSCI membuka konsultasi kepada pelaku pasar untuk mengkaji ulang klasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari kategori Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market pada seluruh indeks komposit global dan regional yang relevan.
MSCI akan menerima masukan dari pelaku pasar mengenai proposal reklasifikasi MSCI Indeks Indonesia tersebut sampai 30 April 2027, dan akan mengumumkan keputusannya sebelum tanggal 30 Juni 2027.
MSCI menegaskan rencana tersebut tetap berlanjut kecuali ditemukan bukti jelas adanya perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar Indonesia.
Sejak Januari 2026, MSCI telah membekukan sebagian perubahan indeks saham Indonesia, setelah investor menyoroti ketidaktransparanan struktur kepemilikan dan dugaan coordinated trading.
Meski otoritas telah mengumumkan reformasi, yaitu mencakup keterbukaan kepemilikan di atas 1 persen, klasifikasi investor yang lebih rinci, pelaporan High Shareholding Concentration (HSC), dan peta jalan peningkatan minimum free float menjadi 15 persen.
Namun demikian, pelaku pasar menilai implementasinya belum konsisten dan belum disertai penegakan hukum yang signifikan.
“Jika reklasifikasi terealisasi, Indonesia berisiko mengalami arus keluar dana asing, tekanan jual saham, dan peningkatan volatilitas,” ujar Liza.
Di sisi lain, beban bunga utang pemerintah dalam APBN 2027 diproyeksikan mencapai Rp650,31 triliun atau 18,93 persen dari penerimaan negara, sehingga berpotensi mempersempit ruang fiskal.
Sementara, S&P Global Ratings masih mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, tetapi rasio bunga terhadap penerimaan pemerintah umum yang persisten di atas 15 persen menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Kenaikan premi risiko 50-100 bps berpotensi menambah beban bunga sekitar Rp9-18 triliun per tahun seiring penerbitan SBN baru, sehingga pemerintah perlu memperkuat penerimaan pajak, meningkatkan produktivitas belanja, mengendalikan utang baru, serta menjaga kredibilitas fiskal dan konsistensi reformasi pasar untuk mempertahankan kepercayaan investor
Dari mancanegara, sentimen pasar global cenderung defensif seiring meningkatnya keraguan terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) dan kemampuan perusahaan infrastruktur teknologi menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan besarnya belanja modal.
"Kekhawatiran terpusat pada penggunaan utang dan dukungan pembiayaan dari pemasok yang berpotensi menciptakan permintaan semu melalui skema pembiayaan sirkular," ujar Liza.
Rupiah Tembus Rp18.021
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, bergerak melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi laporan konsultasi penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia.
“MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (16/10/2026), dikutip dari Antara.
Sebelumnya, MSCI pada Juni 2026 telah mengumumkan apabila kemajuan yang memadai belum terlihat pada November 2026 Index Review, MSCI akan mempertimbangkan untuk meluncurkan konsultasi mengenai reklasifikasi pasar Indonesia.
Pelaku pasar telah melaporkan kepada MSCI bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan yang cukup secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia.
Meskipun reformasi telah diumumkan, masih terdapat kekhawatiran yang signifikan di sekitar disfungsi pasar, termasuk dugaan masih adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan kurangnya bukti penegakan yang berarti.
Oleh karena itu, MSCI tidak lagi menganggap klasifikasi lanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tepat, dan sedang meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasi ulang Indonesia sebagai Standalone Market.
Sentimen lain dipengaruhi rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang lebih tinggi dari ekspektasi memberikan tekanan terhadap rupiah. Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar.
Secara tahunan, inflasi headline meningkat menjadi 3,7 persen year on year (YoY) dari 3,4 persen YoY, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen YoY. Inflasi September 2026 juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2026. Dia menyatakan kenaikan inflasi headline terutama didorong oleh peningkatan biaya energi.
Sementara itu, inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6 persen YoY dari 2,4 persen YoY, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen YoY. Kenaikan inflasi inti terutama didorong oleh peningkatan biaya shelter dan kendaraan.
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi pernyataan sejumlah pejabat The Fed meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
“Perkembangan tersebut menegaskan masih kuatnya tekanan inflasi baik di sisi produsen maupun konsumen di AS,” ujar Josua.


0 comments