IHSG Anjlok 2,59 Persen, Mirae Asset Soroti Risiko Pembiayaan Akuisisi Saham BYAN

IVOOX.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,59 persen ke level 5.936 di tengah tekanan saham-saham konglomerasi. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai kondisi pasar saham domestik masih rentan, sementara struktur pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Dalam keterangan tertulis pada 13 Oktober 2026, Mirae Asset mencatat pelemahan pasar dipimpin oleh koreksi sejumlah saham konglomerasi, termasuk DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN. Sebanyak 11 sektor saham melemah, dengan 632 saham terkoreksi dan hanya 118 saham menguat. Di tengah tekanan tersebut, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp81 miliar di pasar reguler.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai sentimen pasar masih rapuh akibat risiko konsentrasi indeks, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian pengawasan pasar.
Di pasar global, pergerakan bursa Amerika Serikat bervariasi. Dow Jones menguat 0,4 persen, sedangkan S&P 500 turun 0,1 persen dan Nasdaq melemah 0,4 persen. Harga minyak Brent melonjak 1,8 persen menjadi 106,65 Dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Sementara itu, harga emas turun 0,6 persen.
Indeks dolar AS menguat ke sekitar 102,6, sedangkan rupiah melemah ke kisaran Rp17.900 per dolar AS. Rully menilai investor perlu mencermati sejumlah agenda ekonomi yang berpotensi memengaruhi pasar.
“Katalis utama yang perlu dicermati ke depannya adalah data inflasi Amerika Serikat pada Rabu dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan berikutnya. Dalam kondisi tersebut, pendekatan selektif terhadap saham tetap relevan dibandingkan mengambil eksposur secara luas terhadap indeks,” kata Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Kamis (15/10/2026).
Selain sentimen pasar, Mirae Asset menyoroti kemampuan pembayaran utang dalam transaksi akuisisi saham BYAN. Research Analyst Mirae Asset, Muhammad Nurkholis Syafruddin, mengatakan penilaian kredit seharusnya mempertimbangkan kemampuan debitur membayar kewajiban, bukan hanya nilai aset yang dijaminkan.
“Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25 persen saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar USD960 juta per tahun, termasuk 500 juta Dolar AS untuk tahun buku 2025,” ujar Nurkholis.
Berdasarkan kepemilikan tersebut, dividen Jhonlin secara historis berpotensi mencapai sekitar 290 juta Dolar AS per tahun. Mirae Asset memperkirakan nilai itu dapat menopang pembayaran fasilitas pembiayaan senilai Rp26,1 triliun atau sekitar 1,45 miliar Dolar AS, dengan asumsi seluruhnya berasal dari utang dan biaya pinjaman 8 persen.
“Dengan struktur cicilan selama 7-8 tahun, dividen rata-rata BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar USD116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Sementara itu, cicilan tahunan sebesar 252–279 juta Dolar AS dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” jelas Nurkholis.
Namun, Mirae Asset mengingatkan kemampuan pembayaran tersebut bergantung pada konsistensi pembagian dividen BYAN. Jika menggunakan rata-rata dividen 2023–2025 sebesar 667 juta Dolar AS per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan hanya 0,72–0,80 kali. Agar rasio tersebut melampaui satu kali, BYAN diperkirakan perlu membagikan dividen minimal sekitar US$830 juta per tahun.
“Risiko juga berasal dari kebijakan dividen BYAN. Jhonlin tidak menerima dividen tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen, mengingat keluarga Low masih memegang sekitar 32 persen saham BYAN. Selain itu, risiko terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang,” ujar Nurkholis.
Meskipun skema gadai saham, rekening penampungan dividen, dan cadangan pembayaran utang dapat membantu mengendalikan risiko, pelunasan tetap bergantung pada arus kas serta siklus industri batu bara.
Mirae Asset menilai transaksi tersebut tidak seburuk yang dikhawatirkan, tetapi tetap berpandangan bearish terhadap BMRI. Pandangan itu didasarkan pada tantangan fundamental bank, termasuk rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 94,4 persen, rasio kecukupan modal bank-only 17,5 persen, serta kenaikan Cost of Credit di tengah Loan Loss Reserve sekitar 2,4 persen.


0 comments