Harga Telur dan Daging Ayam Masih Tertekan, Pemerintah Diminta Lindungi Peternak Kecil | IVoox Indonesia

August 6, 2026

Harga Telur dan Daging Ayam Masih Tertekan, Pemerintah Diminta Lindungi Peternak Kecil

antarafoto-penetapan-harga-acuan-telur-ayam-ras-dan-ayam-pedaging-1783429263-1
Pekerja mengumpulkan telur ayam di salah satu peternakan di Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (7/7/2026). Pemerintah menetapkan kebijakan harga acuan minimum telur ayam ras sebesar Rp24.000 per kilogram dan ayam pedaging hidup (live bird) Rp19.500 per kilogram di tingkat peternak yang mulai berlaku pada 15 Juli 2026 sebagai upaya menghentikan anjloknya harga di tingkat peternak serta menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat. ANTARA FOTO/Abdan Syakura

IVOOX.id – Akademika Center menyoroti masih rendahnya harga telur ayam ras dan meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen agar usaha peternakan rakyat tetap berkelanjutan.

Direktur Akademika Center, Edy Priyono, mengatakan harga telur ayam ras hingga 4 Agustus 2026 masih berada di bawah harga acuan pemerintah.

"Hasil pemantauan terkini menunjukkan bahwa harga telur dan daging ayam ras masih tertekan. Per 4 Agustus 2026 rata-rata harga telur ayam ras adalah Rp26.670 per kilogram. Harga tersebut bahkan turun tipis dibandingkan harga minggu lalu sebesar Rp27.284 per kilogram. Angka tersebut masih cukup jauh di bawah harga acuan di tingkat konsumen yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Rp30.000," kata Edy dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Rabu (5/8/2026).

Pemantauan harga pangan pada Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan dilakukan pada 14 komoditas pangan utama, meliputi beras medium, beras premium, gula pasir, minyak goreng premium, Minyakita, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, tepung terigu, kedelai, cabai merah keriting, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih.

Menurutnya, tekanan harga juga terjadi di tingkat peternak. Harga telur yang diterima peternak saat ini rata-rata hanya mencapai Rp23.237 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga acuan pemerintah sebesar Rp24.000 per kilogram. Bahkan, laporan dari peternak di Jawa Tengah mencatat harga telur hanya sekitar Rp21.400 per kilogram setelah sebelumnya sempat berada di kisaran Rp20.000 per kilogram atau lebih rendah di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Edy menilai kondisi tersebut sangat memberatkan peternak ayam petelur skala kecil yang mendominasi sektor perunggasan nasional. "Jika tak segera membaik, sebagian peternak berisiko bangkrut atau setidaknya mengurangi jumlah ayamnya dengan cara mengafkirkan lebih dini seperti yang berulang kali terjadi sebelumnya," ujarnya.

Selain telur, harga daging ayam ras juga masih berada di bawah harga acuan pemerintah. Berdasarkan pemantauan Akademika, rata-rata harga daging ayam ras secara nasional pada 4 Agustus 2026 tercatat sebesar Rp38.408 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga acuan pemerintah sebesar Rp40.000 per kilogram.

Menurut Edy, perusahaan peternakan besar atau integrator relatif lebih mampu bertahan karena memiliki efisiensi produksi dan sumber pendapatan yang lebih beragam. Sebaliknya, peternak rakyat menghadapi tekanan yang jauh lebih besar ketika harga jual berada di bawah biaya yang diharapkan.

Akademika menilai pemerintah perlu segera melakukan intervensi agar harga di tingkat peternak kembali membaik tanpa mengorbankan kepentingan konsumen. Salah satu langkah yang diusulkan adalah menjalankan instruksi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) membeli telur dan daging ayam dari peternak sesuai harga acuan pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga diminta mempermudah akses peternak kecil terhadap bahan baku pakan, khususnya bungkil kedelai dan jagung, dengan harga terjangkau. Akademika mengusulkan agar Bulog menyalurkan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) kepada peternak sesuai harga acuan, sekaligus memperkuat koordinasi dengan industri pakan untuk menjaga stabilitas harga pakan jadi maupun konsentrat.

0 comments

    Leave a Reply