Harga Biji Kakao Terkerek Naik Akibat Penutupan Selat Hormuz | IVoox Indonesia

May 31, 2026

Harga Biji Kakao Terkerek Naik Akibat Penutupan Selat Hormuz

antarafoto-harga-kakao-anjlok-1776598793-1
Petani menunjukkan buah kakao saat panen di Desa Pantong, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Aceh, Minggu (19/4/2026). Harga kakao di tingkat petani di daerah itu anjlok dari Rp120 ribu per kilogram menjadi Rp35 ribu per kilogram akibat penurunan kualitas biji karena pengaruh cuaca dan hama serta fluktuasi pasar. ANTARA FOTO/Rahmad

IVOOX.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kenaikan harga referensi (HR) komoditas biji kakao periode Juni 2026 dipengaruhi oleh penutupan Selat Hormuz sehingga mengakibatkan peningkatan biaya logistik dan bahan bakar. 

HR biji kakao periode Juni 2026 ditetapkan sebesar 3.832,17 dolar AS per MT, naik 563,48 dolar AS atau 17,24 persen dari periode sebelumnya. Dampaknya, harga patokan ekspor (HPE) biji kakao periode Juni 2026 menjadi 3.511 dolar AS per MT, naik 549 dolar AS atau 18,53 persen dari periode sebelumnya.

"Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi dan bahan bakar," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana dalam siaran pers Kemendag di Jakarta, Sabtu (30/5/2026), dikutip dari Antara.

Tommy menambahkan penurunan suplai dari Nigeria juga ikut mendorong kenaikan HR dan HPE biji kakao.

Sementara itu, tidak terjadi perubahan HPE untuk produk kulit pada periode Juni 2026 dibanding periode sebelumnya.

HPE keping kayu (chipwood), HPE kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm² dari jenis hutan tanaman jenis sungkai, dan HPE kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000-10.000 mm² juga tidak berubah.

Namun, komoditas getah pinus periode Juni 2026 ditetapkan sebesar 980 dolar AS per MT, naik sebesar 64 atau 6,99 persen dari periode Mei 2026.

Kenaikan juga terjadi pada HPE kayu veneer dari hutan alam dan hutan tanaman; serta HPE kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm² dari jenis meranti, merbau, rimba campuran, sortimen lainnya jenis eboni, serta hutan tanaman jenis akasia, sengon, balsa, eukaliptus, dan lainnya.

Di sisi lain, terjadi penurunan HPE kayu lapis untuk kotak kemasan (wooden sheet for packing box); HPE kayu keping atau pecahan (wood in chips or particle); dan HPE kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm² dari jenis jati dan dari hutan tanaman jenis pinus, gmelina dan karet.

0 comments

    Leave a Reply