Gema Takbir Penawar Getir di Sijudo
Gema Takbir Penawar Getir di Sijudo
IVOOX.id - Desa Sijudo di Pante Bidari, Aceh Timur kini tak lagi sekadar tempat, melainkan telah berubah menjadi luka yang masih bernapas. Sejak banjir bandang itu datang pada November 2025 desa tersebut seperti dihapus perlahan dari ingatan, hanya menyisakan kesunyian yang memanjang.
Memasuki tempat itu, langkah disambut oleh hamparan lumpur yang telah mengering namun masih menyisakan debu tebal yang beterbangan. Panas matahari membakar kulit seolah menguji keteguhan penyintas yang masih bertahan dan menjalani ibadah puasa di sana.
Tak banyak ruang untuk bernaung, seakan langit sengaja menyingkirkan teduh dari tanah yang terluka. Rumah-rumah telah lenyap disapu ganasnya banjir bandang menyisakan ruang kosong yang dipenuhi kehilangan. Bahkan untuk sekadar membersihkan diri saja tidak ada lagi tempat yang layak, seolah martabat pun ikut hanyut bersama arus yang tak berbelas kasih.
Namun, di balik luka yang belum sepenuhnya kering, gema takbir tetap berkumandang, lirih namun penuh harap menandakan datangnya hari kemenangan yang terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kenangan tentang lebaran sebelum bencana masih menggantung di tempat itu, dari anak-anak yang dahulu pulang dengan baju baru, sampai rumah yang kini hanya tinggal cerita. Kesedihan itu tetap ada, mengendap pelan, meski perlahan disusupi semangat para tamu dan relawan yang datang membawa harapan.
Kini Lebaran di sana tidak lagi sekadar perayaan melainkan sebagai upaya merawat sisa-sisa kebahagiaan. Warga tetap menunaikan zakat fitrah, mengkhatamkan Al Quran bersama hingga mempersiapkan lapangan sederhana sebagai tempat shalat Idul Fitri 1447 H.
Ada kehangatan yang lahir dari kebersamaan, seperti ketika seekor lembu hasil sumbangan relawan dimasak bersama untuk melakukan tradisi meugang jelang Lebaran lalu dibagikan kepada warga. Momen itu menjadi pelipur lara sejenak untuk menghapus getir yang masih tersisa di dada.
Di balik reruntuhan, warga mencoba memaknai musibah sebagai pesan langit. Pohon-pohon pinang yang rebah dianggap bukan sekadar tumbang, melainkan simbol sujud yang sunyi sebagai pengingat agar manusia kembali menundukkan diri kepada Sang Maha Kaya.
Kini, masyarakat Sijudo ingin bangkit kembali mengolah tanah, menanam harapan baru di kebun yang dahulu luluh lantak. Dengan segala keterbatasan mereka memilih untuk melangkah perlahan, percaya bahwa dari luka yang dalam akan tumbuh kekuatan yang tak mudah dipatahkan.
Foto & teks: Rivan Awal Lingga
Editor : Wahyu Putro A


0 comments