Geliat Ekonomi Hijau di Sudut Jakarta | IVoox Indonesia

May 4, 2026

Geliat Ekonomi Hijau di Sudut Jakarta

Geliat Ekonomi Hijau di Sudut Jakarta

IVOOX.id - Sebuah bangunan setinggi 18 meter berdiri di salah satu sudut Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta. Bila kita tidak memasukinya, tidak ada yang menyangka di dalamnya terdapat sebuah greenhouse atau rumah kaca yang berisi pertanian hidroponik vertikal dengan 13 tingkat. Bak oase di tengah padang pasir, rumah kaca bernama Ladang Farm tersebut menjadi salah satu titik hijau pertanian di antara padatnya permukiman, pertokoan, serta perkantoran di Jakarta.

Di dalamnya terdapat sekitar 33.000 lubang tanam yang dimanfaatkan untuk berbagai komoditas hortikultura. Tak sekadar sebuah pertanian konvensional, pertanian hidroponik di sini juga dilengkapi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu membantu efektivitas operasional.

Melalui teknologi ini, berbagai parameter penting seperti kelembapan, suhu, dan nutrisi tanaman dapat dipantau serta dikontrol secara akurat. Hal tesebut membantu menjaga kualitas produksi sayuran dan meminimalkan risiko gagal panen dibandingkan dengan memakai metode konvensional.

Komoditas sayur yang dibudidayakan di Ladang Farm cukup beragam dan menggunakan benih tanaman impor mulai dari thai basil, italian basil, shiso atau perilla, mint, selada, kale, hingga seledri. Dua jenis basil dan selada menjadi produk unggulan yang paling diminati pasar. Tanaman-tanaman itu tidak hanya menyasar kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi komoditas penting bagi sektor hotel, restoran, dan kafe di wilayah Jabodetabek.

“Pelanggan kami didominasi sektor industri makanan di horeca (hotel, restoran, kafe) yang sayuran hasil produksi kami dijadikan bahan campuran dan pelengkap resep menu makanan di sana,” kata General Manager Ladang Farm, Nova Riswanto.

Penjualan hasil panen Ladang Farm membuktikan bagaimana agribisnis dengan teknologi modern dapat terhubung dengan berbagai sektor pasar. Selain memasok ke pelaku industri kuliner, produk juga dipasarkan melalui sejumlah loka pasar digital.

Pertanian vertikal ini juga tidak hanya berfokus pada produksi sayurannya. Ladang Farm juga mengembangkan lini bisnis agrowisata sebagai sumber pendapatan tambahan.

Masyarakat umum dapat melihat langsung kebun hidroponik bertingkat ini dengan membayar dari Rp35 ribu untuk sekadar berkeliling dan berfoto, hingga Rp150 ribu untuk paket edukasi cara menanam hidroponik. Adapun program khusus yang menggabungkan pengalaman bertani dengan kelas memasak yang memanfaatkan hasil panen langsung dari kebun tersebut.

Lebih dari sekadar destinasi wisata, kehadiran agrowisata ini menjadi medium edukasi publik tentang inovasi pertanian di tengah perkotaan dengan memahami proses dari hulu ke hilir, mulai dari pembibitan hingga distribusi hasil pertanian.

“Biasanya yang datang itu masyarakat dan pelajar dari sekolah, mereka berkunjung dan belajar langsung dengan agronomis kami, lalu membawa pulang tanaman hasil praktik belajar menanam hidrponiknya,” kata Nova Riswanto.

Ladang Farm tidak hanya memproduksi pangan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya inovasi dalam menjaga ketahanan pangan lokal khususnya di wilayah perkotaan.

Melalui pendekatan teknologi, efisiensi ruang, dan inovasi usaha, Ladang Farm dapat menjadi contoh nyata bagaimana agribisnis bisa menunjukkan eksistensi ekonomi hijau di tengah pesatnya perekonomian perkotaan Jakarta sekaligus menjadi inspirasi bagi pengembangan pertanian berkelanjutan.

Foto dan teks: Sulthony Hasanuddin

Editor: Sigid Kurniawan

0 comments

    Leave a Reply