Gejolak Pangan Dunia Mengancam Daya Beli, Anggota DPR Desak Perkuat Produksi Dalam Negeri | IVoox Indonesia

Gejolak Pangan Dunia Mengancam Daya Beli, Anggota DPR Desak Perkuat Produksi Dalam Negeri

Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo
Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo. IVOOX.ID/doc DPR RI

IVOOX.id – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menilai gejolak rantai pasok pangan dunia harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat produksi pangan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. Menurutnya, gangguan global yang dipicu konflik geopolitik, kenaikan harga energi, dan biaya logistik dapat berdampak langsung terhadap harga pangan serta daya beli masyarakat.

Firman mengatakan, ketahanan pangan tidak bisa hanya dilihat dari ketersediaan beras, tetapi juga harus mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari daging, buah-buahan, sayuran, kedelai, hingga gandum.

“Strateginya jelas dan tidak bisa ditawar, yakni memperkuat produksi pangan domestik hingga mencapai swasembada. Efisiensi produksi harus ditingkatkan, distribusi diperbaiki, dan ketergantungan terhadap pasokan impor dikurangi,” ujar Firman dalam siaran pers, Senin (19/10/2026)

Wakil Ketua Fraksi Golkar MPR RI itu menjelaskan, krisis global dapat menimbulkan efek berantai terhadap sektor pangan. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian, harga bahan baku pupuk, serta ongkos transportasi dan distribusi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.

Menurut Firman, ketergantungan terhadap bahan pangan impor juga membuat Indonesia rentan terhadap perubahan harga internasional dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Ketika harga komoditas global meningkat dan dolar AS menguat, biaya impor dapat semakin membebani perekonomian nasional.

Ia mencontohkan, ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti kedelai dan gandum, turut memengaruhi biaya produksi industri pangan. Kenaikan harga bahan baku pakan juga dapat menekan biaya produksi peternakan sehingga berdampak terhadap harga ayam dan telur yang dikonsumsi masyarakat.

“Ketika pangan impor semakin mahal, yang merasakan dampaknya adalah masyarakat. Pengeluaran rumah tangga meningkat, ruang untuk menabung semakin kecil, dan daya beli bisa tertekan,” katanya.

0 comments

    Leave a Reply