Gaji Masuk, THR Datang: Strategi Biar Nggak Kalap Belanja Selama Ramadan

IVOOX.id, Jakarta - Akhir bulan terasa lebih menyenangkan saat Ramadan. Gaji sudah masuk, THR di depan mata, notifikasi diskon berseliweran di layar. Flash sale bertema Ramadan, promo hampers, sampai koleksi baju Lebaran terbaru muncul hampir setiap hari. Godaannya memang nyata.
Bagi milenial dan Gen Z yang hidup di era belanja satu klik, momentum ini bisa jadi jebakan halus. Niat awalnya hanya melihat-lihat, tapi keranjang belanja tiba-tiba penuh. Apalagi dengan menggunakan kata sakti “mumpung Ramadan”, “setahun sekali”, atau “reward setelah kerja keras”.
Padahal, tanpa strategi, euforia gaji dan THR bisa berubah jadi penyesalan setelah Lebaran.
Ramadan memang identik dengan peningkatan konsumsi. Ada kebutuhan tambahan seperti buka bersama, zakat, hampers, mudik, hingga outfit Lebaran. Semuanya terasa penting. Di sinilah pentingnya membedakan antara kebutuhan dan dorongan sesaat.
Langkah pertama yang sering disarankan perencana keuangan adalah memisahkan dana sejak awal. Begitu gaji atau THR masuk, langsung alokasikan ke beberapa pos seperti utnuk kebutuhan rutin, kewajiban (zakat atau sedekah), tabungan, dan baru kemudian belanja konsumtif. Dengan cara ini, uang tidak terlihat “utuh” dan lebih sulit dihabiskan tanpa sadar.
Strategi sederhana lainnya adalah membuat daftar belanja sebelum membuka aplikasi. Terdengar klasik, tapi efektif. Tanpa daftar, algoritma promosi akan dengan mudah mengarahkan kita membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan.
Milenial dan Gen Z juga dikenal lebih sadar investasi dibanding generasi sebelumnya. Ramadan bisa jadi momen tepat untuk menguatkan kebiasaan itu. Sebagian THR bisa dialihkan ke tabungan darurat, investasi jangka panjang, atau dana tujuan tertentu. Sensasinya mungkin tidak seinstan membeli barang baru, tapi dampaknya jauh lebih panjang.
Hal lain yang sering luput adalah tekanan sosial. Outfit Lebaran harus baru. Hampers harus terlihat “pantas”. Bukber harus di tempat estetik. Tanpa sadar, standar ini terbentuk dari apa yang kita lihat di media sosial.
Padahal, esensi Ramadan bukan pada seberapa mahal yang dibeli, melainkan seberapa bijak kita mengelola rezeki.
Bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja keras. Self reward tetap penting, tapi bedanya ada pada kontrol. Belanja karena sadar dan terencana berbeda dengan belanja karena terbawa suasana.
Gaji dan THR seharusnya memberi rasa aman, bukan kecemasan setelahnya. Ramadan bisa menjadi latihan menahan diri, bukan hanya dari lapar dan haus, tetapi juga dari impuls yang tidak perlu.
Penulis: Maulana Haitami


0 comments