Ekonom Ungkap Hal yang Perlu Dicermati Investor Jelang Review MSCI 12 Agustus | IVoox Indonesia

August 11, 2026

Ekonom Ungkap Hal yang Perlu Dicermati Investor Jelang Review MSCI 12 Agustus

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed? pada Selasa (30/6/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai perhatian investor menjelang pengumuman hasil review MSCI pada 12 Agustus 2026 tidak hanya akan terfokus pada perubahan komposisi indeks. Investor juga perlu mencermati arah kebijakan MSCI terkait aksesibilitas dan tingkat investability pasar saham Indonesia.

Ia mengatakan investor perlu melihat apakah MSCI mulai memberikan sinyal pelonggaran terhadap perlakuan khusus atau pembekuan yang saat ini masih diterapkan terhadap saham-saham Indonesia.

“Investor sebaiknya tidak hanya melihat index inclusion atau exclusion, tetapi terutama mencermati arah kebijakan MSCI terhadap investability dan market accessibility Indonesia,” ujar Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, salah satu indikator penting adalah keputusan MSCI terkait pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Investor juga perlu memperhatikan kemungkinan adanya penambahan maupun migrasi saham Indonesia ke dalam indeks yang dinilai investable.

Selain itu, isu transparansi, free float, serta keterbukaan struktur kepemilikan saham juga dinilai menjadi perhatian. Rully menilai persoalan tersebut memiliki dampak jangka panjang karena berhubungan dengan kemampuan investor global dalam mengukur free float dan menentukan harga saham secara wajar.

“Persoalan Indonesia bukan lagi sekadar masalah index rebalancing, tetapi menyangkut apakah investor global dapat menilai secara akurat free float dan membentuk harga secara wajar,” kata Rully.

Rully menilai keputusan MSCI pada Agustus juga dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan timeline normalisasi perlakuan terhadap pasar Indonesia. Apabila MSCI menilai reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menunjukkan kredibilitas, dampaknya dinilai dapat lebih positif dibandingkan sekadar perubahan sejumlah konstituen indeks.

Sebaliknya, apabila perlakuan khusus diperpanjang tanpa adanya roadmap yang jelas, investor berpotensi tetap menerapkan premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia.

Di sisi lain, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin mengatakan fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat menopang pasar saham. Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 5,1 persen. Kinerja emiten juga masih mencatat pertumbuhan sepanjang semester I 2026.

Namun, pasar perlu mencermati kemampuan ekonomi mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah indikasi perlambatan dan dampak kenaikan suku bunga terhadap penyaluran kredit.

“Faktor yang akan menggerakkan market adalah seberapa besar momentum ini dapat dipertahankan mengingat tanda-tanda pelemahan mulai terlihat di ujung semester I-2026, ditambah kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan kredit usaha,” ujar Wilbert.

Menurutnya, kondisi neraca eksternal dan fiskal juga menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi terhadap peringkat kredit Indonesia. Jika fundamental tersebut tetap terjaga dan MSCI memberikan sinyal positif menjelang November, kondisi itu berpotensi menjadi titik balik bagi arus modal asing ke pasar saham Indonesia.

0 comments

    Leave a Reply