Ekonom: Suku Bunga BI Masih Dipengaruhi Kondisi Nilai Tukar Rupiah | IVoox Indonesia

Ekonom: Suku Bunga BI Masih Dipengaruhi Kondisi Nilai Tukar Rupiah

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto dalam media gathering di Jakarta, Selasa (18/8/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi nilai tukar rupiah. Menurutnya, ruang pelonggaran kebijakan moneter perlu dipertimbangkan secara hati-hati agar tidak memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Rully memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Ia juga menyebut asumsi nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan arah kebijakan moneter.

“Kami lihat untuk sementara ini mungkin masih akan dipertahankan di 6% BI-Rate-nya sampai dengan akhir tahun 2030, mungkin 2027 ya, asumsi kami Rupiahnya di kisaran Rp18.000,” jelas Rully dalam media gathering di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Menurut Rully, perubahan kebijakan suku bunga yang terlalu cepat berpotensi memberikan tantangan terhadap stabilitas rupiah, khususnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Karena itu, komunikasi kebijakan BI juga perlu dilakukan secara hati-hati.

“Di luar interest rate, mungkin akan berbahaya buat Rupiah kalau terlalu cepat mengeluarkan pernyataan-pernyataan dovish, apalagi untuk menurunkan suku bunga, saya rasa masih sangat terlalu early,” kata Rully.

Ia menilai stabilitas menjadi faktor penting dalam menjaga sekaligus memperbaiki kondisi perekonomian nasional. Selain kebijakan domestik, perkembangan sentimen global juga masih memberikan pengaruh terhadap pasar keuangan Indonesia, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Di sisi lain, riset Phintraco Sekuritas mencatat mayoritas indeks sektoral menguat pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026. Indeks sektor energi (IDXENERGY) menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,24 persen. Selanjutnya, sektor infrastruktur (IDXINFRA) naik 1,65 persen dan transportasi serta logistik (IDXTRANS) menguat 1,31 persen.

Sementara itu, indeks sektor keuangan (IDXFINANCIAL) justru melemah 0,47 persen.

Phintraco Sekuritas menyebut penguatan IHSG salah satunya didorong ekspektasi pasar bahwa BI akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya. Ekspektasi tersebut didukung inflasi yang masih berada dalam sasaran BI serta upaya menjaga stabilitas rupiah.

Pasar Domestik Masih Berpeluang Menguat pada Semester II 2026

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat peluang penguatan pasar domestik masih terbuka pada paruh kedua 2026. Meredanya tekanan eksternal, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta penguatan rupiah dinilai memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, perhatian investor mulai beralih dari risiko global menuju fundamental domestik. Kondisi tersebut membuat kualitas pertumbuhan ekonomi dan konsistensi kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar.

"Ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, tetapi dengan profil risiko yang semakin berimbang. Perhatian investor akan semakin bergeser pada kualitas pertumbuhan dan konsistensi kebijakan domestik, termasuk realisasi fiskal, perkembangan inflasi, serta efektivitas transmisi likuiditas ke sektor produktif. Karena itu, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar menjadi semakin penting," ujar Rully dalam konferensi pers pada Selasa (18/8/2026).

Menurut Mirae Asset, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, terutama inflasi, stabilitas nilai tukar, kredibilitas fiskal, serta kualitas pertumbuhan ekonomi dan kinerja laba perusahaan.

Sementara itu, sektor perbankan menjadi salah satu area yang dinilai perlu mendapat perhatian. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin mengatakan, likuiditas perbankan masih relatif ketat meski pertumbuhan kredit tetap kuat.

“Meskipun terdapat deployment SAL sebesar Rp451 triliun, likuiditas perbankan diperkirakan masih tetap ketat seiring dengan kuatnya pertumbuhan kredit,” ujar Nurkholis.

Perubahan ketentuan reserve requirement yang mulai berlaku pada September 2026 juga dinilai dapat memberikan dampak berbeda bagi setiap bank. Karena itu, investor perlu melihat kondisi likuiditas dan struktur permodalan masing-masing bank secara selektif untuk mengetahui ruang pertumbuhan yang tersedia.

Di tengah dinamika tersebut, Mirae Asset Sekuritas juga memperkuat bisnis Wealth Management. Transformasi ini dilakukan untuk menjawab meningkatnya kebutuhan kelompok middle class dan mass affluent dalam mengelola serta mengembangkan aset secara lebih terarah.

Direktur PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tomi Taufan mengatakan pendekatan pengelolaan kekayaan kini tidak lagi cukup berorientasi pada produk investasi.

“Wealth Management tidak lagi hanya berbicara mengenai produk apa yang tersedia, tetapi dimulai dari memahami kebutuhan nasabah, kemudian menghadirkan solusi yang sesuai. Karena itu, kami mendorong perubahan dari pendekatan product-centric menjadi client-centric,” ujar Tomi.

Transformasi tersebut bertumpu pada lima pilar, yakni Service, Product, Access, Global, dan Technology. Melalui pendekatan ini, nasabah dapat memperoleh solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas, pendapatan, pertumbuhan aset, proteksi, diversifikasi, hingga perencanaan investasi global.

0 comments

    Leave a Reply