Ekonom: Pasar Keuangan Indonesia Masih Hati-hati Meski Ekonomi Tumbuh di Atas Ekspektasi | IVoox Indonesia

May 7, 2026

Ekonom: Pasar Keuangan Indonesia Masih Hati-hati Meski Ekonomi Tumbuh di Atas Ekspektasi

Head of Research & Chief Economist Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist Rully Arya Wisnubroto. IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih bergerak dengan kecenderungan hati-hati, meskipun data makroekonomi terbaru menunjukkan kinerja yang melampaui ekspektasi. Kondisi ini mencerminkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya merespons fundamental ekonomi yang dinilai cukup solid di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 1,22 persen ke level 7.057,11 pada perdagangan Selasa (5/5/2026), melanjutkan rebound dari posisi sebelumnya di 6.971,95. Penguatan ini terjadi setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I 2026 yang tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year), melampaui proyeksi pasar.

Namun, di balik penguatan tersebut, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp518,39 miliar. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah tetap berada dalam tekanan dan bahkan sempat menembus level Rp17.400 per dolar AS.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan IHSG saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen global ketimbang perubahan fundamental domestik yang signifikan.

“Masih terlalu dini untuk mengasumsikan bahwa penguatan ini akan berlanjut, mengingat aliran dana asing masih mencatatkan outflow dan belum terdapat katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar,” ujarnya pada Rabu (6/5/2026).

Ia menekankan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi faktor krusial untuk menarik kembali minat investor global. Menurutnya, selama volatilitas rupiah masih tinggi, investor cenderung bersikap wait and see terhadap aset berdenominasi rupiah.

“Selama volatilitas rupiah masih tinggi, investor global cenderung akan tetap berhati-hati dalam meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah. Stabilisasi nilai tukar akan menjadi prasyarat penting untuk melihat pembalikan aliran dana asing yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menyebut pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini didorong oleh belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga selama periode Ramadan dan Lebaran.

“Pertumbuhan 5,61 persen YoY ini ditopang oleh akselerasi belanja pemerintah yang meningkat signifikan hingga sekitar 21,8 persen YoY, serta konsumsi domestik yang solid. Strategi frontloading stimulus fiskal turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi di awal tahun,” ujarnya.

Meski demikian, ia mencatat secara kuartalan ekonomi mengalami kontraksi sekitar 0,8 persen (quarter to quarter), yang mengindikasikan adanya faktor musiman. “Kami melihat pertumbuhan berpotensi mengalami normalisasi pada kuartal berikutnya seiring meredanya efek Ramadan-Lebaran dan berkurangnya dampak frontloading fiskal,” katanya.

Dari sisi eksternal, tekanan terlihat melalui perlambatan ekspor dan peningkatan impor, serta kontraksi sektor pertambangan akibat melemahnya harga komoditas global. Ke depan, pasar akan mencermati sejumlah katalis penting, termasuk hasil Market Accessibility Review MSCI pada Juni 2026 serta konsistensi kebijakan stabilisasi rupiah.

0 comments

    Leave a Reply