Ekonom Ingatkan Tekanan Rupiah dan IHSG Jadi Alarm Perkuat Fondasi Ekonomi Nasional

IVOOX.id – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional serta meningkatkan kepercayaan pelaku pasar melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel.
Kepala Center for Sharia Economic Development INDEF, Nur Hidayah, mengatakan gejolak yang terjadi di pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah.
Menurutnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.190 per dolar Amerika Serikat, sementara IHSG mengalami koreksi hingga bergerak di rentang 5.400–5.800 akibat aksi jual bersih atau net sell investor asing.
“Pasar sedang mengirim sinyal yang tidak boleh diabaikan. Rupiah menembus sekitar Rp18 ribu per dolar, investor asing juga melakukan net sell yang sangat besar, IHSG terkoreksi signifikan,” ujar Nur Hidayah dalam diskusi publik secara daring pada Minggu (14/6/2026).
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi nasional. Selain faktor eksternal, pelemahan konsumsi rumah tangga dan melambatnya sektor manufaktur sebagai motor pertumbuhan ekonomi dinilai turut memengaruhi persepsi pasar terhadap target pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut Nur Hidayah, sejumlah investor mulai mempertanyakan realisasi target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicanangkan pemerintah apabila tidak diiringi dengan penguatan sektor-sektor produktif dan kepastian kebijakan.
“Investor tidak takut pada risiko, mereka takut pada ketidakpastian. Ketidakpastian institusional biasanya dihukum lebih keras daripada risiko ekonomi biasa,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa konsistensi kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Kepastian regulasi, tata kelola pemerintahan yang baik, serta arah kebijakan ekonomi yang jelas dinilai dapat membantu meredam tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Di sisi lain, INDEF juga menyoroti tantangan struktural yang tengah dihadapi Indonesia, termasuk menyusutnya jumlah kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah masyarakat yang masuk kategori kelas menengah berkurang sekitar 10 juta orang dalam kurun lima tahun terakhir.
Penurunan jumlah kelas menengah tersebut dinilai dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Sebagai salah satu solusi, INDEF mendorong optimalisasi ekonomi syariah yang dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dengan nilai aset yang disebut telah mendekati Rp3.000 triliun, sektor ekonomi syariah dianggap mampu menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus memperluas inklusi ekonomi masyarakat.


0 comments