Ekonom: Inflasi Domestik 2026 Masih Terkendali Namun Risiko Global Tetap Perlu Diwaspadai | IVoox Indonesia

May 13, 2026

Ekonom: Inflasi Domestik 2026 Masih Terkendali Namun Risiko Global Tetap Perlu Diwaspadai

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede dalam acara Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I 2026, Selasa (12/5/2026). IVOOX.ID/Tangkapan layar zoom meeting

IVOOX.id – Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai tekanan inflasi domestik sepanjang 2026 masih relatif terkendali, terutama jika pemerintah tetap mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Inflasi secara umum tekanannya relatif bisa terjaga di tahun ini, terutama kalau pemerintah masih mempertahankan harga BBM khususnya harga BBM bersubsidi,” kata Josua dalam acara Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I 2026, Selasa (12/5/2026).

Meski demikian, Josua mengingatkan adanya tekanan inflasi global yang mulai meningkat di sejumlah negara besar. Berdasarkan catatan Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER), inflasi di Amerika Serikat mencapai 3,3 persen. Sementara Jerman berada di level 2,9 persen, Inggris 3,3 persen, dan kawasan Eropa secara keseluruhan menyentuh angka 3 persen.

Menurutnya, kenaikan inflasi global tersebut menunjukkan tekanan harga internasional masih cukup kuat dan berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia.

Josua menjelaskan salah satu risiko utama yang perlu diantisipasi ialah imported inflation atau inflasi impor, yakni kenaikan harga barang impor yang pada akhirnya memengaruhi harga di dalam negeri.

“Lonjakan dari harga barang-barang impor pada akhirnya bisa berdampak kepada inflasi domestik karena imported inflation,” ujarnya.

Ia menambahkan, risiko imported inflation juga dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, maupun barang konsumsi.

Di sisi lain, Josua menilai bank sentral global masih cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Hingga saat ini, baik Federal Reserve maupun European Central Bank belum mengubah arah kebijakan moneternya secara signifikan.

“Jadi belum ada perubahan sejauh ini. Namun, memang ruang pemangkasan itu menjadi lebih terbatas ya,” ujarnya.

Sementara itu, Bank of Japan dinilai masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada 2026 seiring tren kenaikan inflasi di Jepang. Namun, Josua menyebut respons bank sentral Jepang terhadap kenaikan inflasi historisnya cenderung lebih lambat dibandingkan bank sentral utama dunia lainnya.

“Namun Bank Sentral Jepang ini cenderung relatif lebih lambat ya, lebih lambat untuk merespon dari kenaikan inflasi tersebut,” katanya.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau menjadi yang tertinggi sejak kuartal III 2022. Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi domestik, percepatan belanja pemerintah, dan investasi yang tetap bertahan di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, ekonomi Indonesia secara kuartalan masih mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen, sehingga stabilitas inflasi dan nilai tukar dinilai tetap menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini.

0 comments

    Leave a Reply