Ekonom: IHSG Tertekan Sentimen Global, Investor Diminta Selektif Pilih Saham | IVoox Indonesia

Ekonom: IHSG Tertekan Sentimen Global, Investor Diminta Selektif Pilih Saham

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed? pada Selasa (30/6/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto melihat pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan akibat sentimen global yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,33 persen ke level 6.589, sementara investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp748 miliar di pasar reguler.

Di tengah tekanan tersebut, investor dinilai perlu menerapkan strategi yang selektif dengan mencermati fundamental emiten serta perkembangan likuiditas domestik.

Rully mengatakan tekanan pasar terlihat terutama pada saham perbankan, termasuk BBCA dan BBRI yang sebelumnya menjadi salah satu penopang IHSG. Di sisi lain, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham komoditas seperti ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA.

Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan adanya rotasi parsial investasi menuju saham komoditas dan sektor tertentu.

“Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5 persen, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5 persen, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas,” ujar Rully.

Rully menjelaskan, nilai tukar rupiah saat ini berada di sekitar Rp17.547 per dolar AS dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 7,11 persen. Tidak adanya lelang SRBI sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan ke instrumen SBN.

Penguatan rupiah dinilai memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengurangi sikap defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek. Namun, tekanan harga minyak serta tingginya global yields masih menjadi faktor yang membatasi ruang pengelolaan melalui BI-Rate.

Selain kondisi pasar keuangan, Mirae Asset juga mencermati perkembangan konsumsi domestik. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan keyakinan konsumen mulai menunjukkan perbaikan, meski pemulihannya belum berlangsung secara merata.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini naik menjadi 109,4, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 127,6.

Namun, terdapat selisih 18,2 poin antara persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan. Hal tersebut menunjukkan konsumen masih cenderung berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi saat ini.

“Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp4,1–5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana,” kata Novani.

Novani juga mencatat perubahan pola pengelolaan keuangan rumah tangga. Porsi tabungan mengalami penurunan paling besar pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp1–4 juta, sementara konsumsi meningkat di hampir seluruh kelompok.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menopang permintaan dalam jangka pendek. Namun, penurunan tabungan juga menjadi sinyal bahwa cadangan keuangan rumah tangga pada segmen tertentu semakin terbatas.

Dengan inflasi tahunan mencapai 3,19 persen, daya beli masyarakat akan semakin bergantung pada kemampuan pendapatan dalam mengimbangi kenaikan harga. Meski demikian, peningkatan keyakinan konsumen tetap menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi domestik.

“Karena itu, kami mempertahankan strategi portofolio yang selektif dengan preferensi pada saham berfundamental kuat dan arus kas solid. RDPU tetap menjadi pilihan likuiditas anchor, sementara RDPT tetap favorable untuk akumulasi bertahap seiring membaiknya peluang di pasar obligasi,” ujarnya.

0 comments

    Leave a Reply