Ekonom: Dampak Pelemahan Rupiah pada Inflasi Mulai Terlihat Mei ini

IVOOX.id – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty memprediksi dampak pelemahan rupiah berpotensi mulai tercermin di hasil perhitungan inflasi bulan Mei ini yang akan diumumkan secara resmi pada awal Juni mendatang.
“Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor,” kata Telisa Aulia Falianty, Senin (19/5/2026), dikutip dari Antara.
Ia mengatakan, komoditas yang berpotensi menjadi yang paling terdampak oleh imported inflation tersebut antara lain obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi.
Tanda-tanda pengaruh dari pelemahan kurs rupiah terhadap inflasi nasional, kata dia, sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir, yakni melalui tren peningkatan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB).
Rupiah tercatat terus melemah sejak awal tahun dan kini nilainya sudah menurun 5,99 persen terhadap dolar AS dalam tahun kalender (year-to-date/ytd).
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa IHPB terus mengalami kenaikan setiap bulan, yakni dari 106,00 pada Januari 2026 menjadi 109,07 pada April 2026. Angka pada April lalu menunjukkan kenaikan IHPB sebesar 3,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
“Biasanya, Indeks Harga Perdagangan Besar akan memengaruhi inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen),” ucap Telisa.
Ia pun meminta pemerintah untuk segera melakukan upaya mitigasi agar dampak pelemahan rupiah tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi nasional.
Ia mendorong pemerintah melakukan efisiensi biaya logistik untuk membantu para pengusaha dalam mengendalikan efek kenaikan harga produksi akibat imported inflation.
Para produsen juga perlu diimbau untuk mempertimbangkan kenaikan harga dalam tingkat yang wajar agar tidak memberatkan konsumen.
Selain itu, perlu dilakukan diversifikasi penggunaan dolar AS dengan mata uang lokal (local currency) dan mata uang nondolar agar mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar sehingga rupiah dapat kembali stabil.
“Karena kalau rupiah stabil, imported inflation dapat dikendalikan,” ujar Telisa.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin ini melemah jadi Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.666 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.


0 comments