Ekonom Celios Soroti Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2026: Konsumsi Rumah Tangga Melemah | IVoox Indonesia

Ekonom Celios Soroti Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2026: Konsumsi Rumah Tangga Melemah

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda ditemui usai menghadiri diskusi forum wartawan industri di Jakarta, Kamis (17/4/2025). (ANTARA/Muzdaffar Fauzan)

IVOOX.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 tercatat meningkat menjadi 5,47 persen, dari 5,29 persen pada triwulan II 2026. Namun, capaian tersebut mendapat sorotan dari Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda. Ia mempertanyakan sejumlah komponen penyusun produk domestik bruto (PDB) yang justru mengalami perlambatan, meskipun pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan meningkat.

Dalam analisisnya, Nailul menyoroti sedikitnya lima hal yang dinilai perlu mendapat perhatian dalam membaca capaian ekonomi nasional tersebut.

Pertama, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB mengalami perlambatan. Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen, sedangkan pada triwulan III 2026 turun menjadi 5,04 persen.

Menurut Nailul, kondisi tersebut perlu dicermati karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama perekonomian. Ia membandingkan dengan triwulan III 2025, ketika konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen dan pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,12 persen pada triwulan sebelumnya.

Kedua, perlambatan juga terjadi pada sejumlah komponen pengeluaran lainnya, terutama pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan konsumsi pemerintah. Pertumbuhan PMTB turun dari 6,87 persen pada triwulan II menjadi 6,06 persen pada triwulan III 2026. Pertumbuhan PMTB kendaraan bahkan melambat dari 26,03 persen menjadi 12,96 persen.

Sementara itu, konsumsi pemerintah merosot dari 15,97 persen menjadi 8,95 persen. Padahal, komponen tersebut sebelumnya tumbuh dua digit, yakni 21,81 persen pada triwulan I dan 15,97 persen pada triwulan II 2026.

Nailul menilai perlambatan kedua komponen tersebut penting diperhatikan karena PMTB dan konsumsi pemerintah secara bersama-sama berkontribusi sekitar 37 persen terhadap PDB.

Ketiga, ia menyoroti perbedaan antara pertumbuhan industri pengolahan dan kondisi konsumsi masyarakat. Industri pengolahan tumbuh 5,87 persen pada triwulan III 2026, dengan industri makanan dan minuman meningkat 7,09 persen serta berkontribusi 7,23 persen.

Namun, pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga untuk makanan dan minuman selain restoran justru mengalami perlambatan. Kondisi tersebut, menurut Nailul, sejalan dengan penurunan indeks penjualan ritel untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Keempat, Nailul mencatat sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, mengalami kontraksi pada triwulan III 2026. Padahal, sektor-sektor tersebut memiliki kontribusi yang mendekati 10 persen terhadap PDB. Kondisi ini berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Terakhir, Nailul menekankan pentingnya menjaga validitas data statistik sebagai dasar untuk membaca kondisi perekonomian masyarakat. Ia mengingatkan agar penyajian data tidak dipengaruhi kepentingan politik atau keinginan pihak tertentu.

Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi perlu mencerminkan kondisi yang sebenarnya agar dapat menjadi landasan tepat bagi analisis dan perumusan kebijakan.

“Pada akhirnya, validitas data sangat penting dalam Analisis kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Apabila data diubah sesuai dengan keinginan Presiden saja, itu sebuah kemunduran bagi negara.” Ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Jumat (6/11/2026).

0 comments

    Leave a Reply