Dua Peneliti Indonesia Raih Indroyono Soesilo Award 2026 di India

IVOOX.id – Dua peneliti Indonesia meraih dua dari empat Indroyono Soesilo Award 2026 pada penutupan Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) ke-47 di New Delhi, India, pada 16 Oktober 2026, melalui riset pemetaan hutan dan bahasa daerah.
Mengutip Antara, siaran pers KBRI Washington yang diterima di Jakarta, Minggu, 18 Oktober 2026, menyebutkan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas inovasi dan kontribusi di bidang penginderaan jauh (remote sensing).
Penghargaan utama diraih Yustinus Seno dari Auriga Nusantara Corp. melalui penelitian “MapBiomas Indonesia: Annual Wall-to-Wall Mapping of Forest Ecosystem in Indonesia”, yang memetakan ekosistem hutan Indonesia setiap tahun pada 1990-2024 menggunakan data satelit Landsat, komputasi awan, dan teknologi pembelajaran mesin.
Adapun penghargaan Honorable Mention diraih oleh Serliah Nur melalui penelitian pemetaan vitalitas bahasa dan perencanaan vitalisasi bahasa di Tana Luwu, Sulawesi, Selatan. Dia mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan analisis sosiolinguistik untuk mendukung pelestarian bahasa daerah.
Sementara itu, dua penerima penghargaan lainnya berasal dari Jepang dan India.
Serenee Osman dari Nakanihon Air Co. Ltd., asal Jepang, meraih Technical Excellence dengan menggunakan LiDAR udara, citra satelit, dan survei batimetri untuk menilai perubahan bentang alam akibat gempa Semenanjung Noto pada 2024.
Penghargaan Special Recognition diberikan kepada Ankitha Reddy dari National Remote Sensing Centre (NRSC), Indian Space Research Organization (ISRO) asal India, atas platform Bhoonidhi yang memperluas akses terhadap data pengamatan Bumi.
Indroyono Soesilo Award dinamai dari Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, seorang ahli penginderaan jauh senior yang dikenal sebagai pelopor pengembangan teknologi tersebut di Indonesia sekaligus salah satu pendiri Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN).
Saat ini, Indroyono Soesilo menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat.
Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) 2026 berlangsung pada 12-16 Oktober 2026 dengan tema “Remote Sensing for Future Earth: Innovation, Inclusion & Impact”, dan mempertemukan sekitar 800 peserta dari lebih dari 30 negara; ilmuwan, lembaga antariksa, akademisi, hingga pelaku industri geospasial.
Konferensi tersebut membahas delapan jalur utama, termasuk pertanian berkelanjutan, kecerdasan buatan geospasial (Geospatial Artificial Intelligence/GeoAI), sensor satelit dan drone, Global Navigation Satellite System (GNSS), mitigasi bencana, serta pemanfaatan data untuk mendukung kebijakan publik.
Acara itu diselenggarakan bersama Asian Association on Remote Sensing, Indian Society of Remote Sensing, dan Indian Society of Geomatics, yang turut didukung oleh sejumlah lembaga seperti ISRO dan NRSC dari India, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dari Jepang, Kementerian Kebumian India dan berbagai lembaga lainnya.
Penginderaan jauh kini berkembang jauh melampaui fungsi pemotretan permukaan Bumi melalui satelit, dan menjadi alat penting untuk memantau kondisi hutan, lahan pertanian, banjir, kekeringan, gempa bumi, perubahan garis pantai, serta berbagai dinamika lingkungan lainnya.
Bagi Indonesia yang memiliki lebih dari 17.500 pulau, penginderaan jauh dibutuhkan untuk pengelolaan sumber daya alam, perlindungan hutan, pengawasan pesisir, perikanan, pertanian, hingga penanganan bencana.


0 comments