Dua Harimau Benggala Mati di Bandung Zoo akibat Virus Panleukopenia | IVoox Indonesia

March 30, 2026

Dua Harimau Benggala Mati di Bandung Zoo akibat Virus Panleukopenia

Seekor harimau Benggala saat berjemur di Kebun Binatang Bandung
Ilustrasi- Seekor harimau Benggala saat berjemur di Kebun Binatang Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (26/3/2026). ANTARA/Rubby Jovan

IVOOX.id – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyampaikan bahwa kematian dua anak harimau Benggala berusia delapan bulan bernama Huru dan Hara akibat serangan virus Panleukopenia.

Humas BBKSDA Jawa Barat Eri Mildranaya mengungkapkan kedua anakan harimau tersebut terjangkit virus yang dikenal sangat berbahaya, terutama bagi satwa muda.

“Secara umum keduanya terinfeksi Panleukopenia. Berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal, namun hasil akhirnya berkata lain,” kata Eri di Bandung, Kamis (26/3/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengatakan penanganan dilakukan secara kolaboratif oleh tim lintas instansi, mulai dari Rumah Sakit Hewan Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, hingga tim medis dari kebun binatang.

“Kami sangat berduka. Kedua anak harimau ini bukan sekadar satwa tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung,” ujarnya.

Eri mengatakan gejala yang muncul pada kedua harimau antara lain muntah, diare, hingga adanya darah pada feses, indikasi kuat infeksi virus yang menyerang sistem pencernaan dan imunitas.

Terkait sumber penularan, ia menjelaskan virus Panleukopenia dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk lingkungan sekitar.

“Kami belum bisa memastikan apakah ada satwa lain yang terjangkit. Saat gejala muncul, anakan langsung diisolasi ke kandang karantina dan ditangani secara intensif,” katanya.

Terpisah, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan akan mengevaluasi tata kelola Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) setelah dua anak harimau Benggala berusia delapan bulan bernama Huru dan Hara dilaporkan mati.

“Kehilangan dua ekor anakan harimau sebuah pelajaran penting dan pukulan berat buat kami, kami sangat prihatin, sangat sedih. Sehingga mudah-mudahan ke depannya, kita bisa melakukan perbaikan dengan sangat baik,” kata Farhan di Bandung, Kamis (26/3/2026), dikutip dari Antara.

Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan pentingnya peningkatan sistem pengelolaan di lingkungan kebun binatang agar ke depan tidak lagi terjadi kasus kematian satwa.

Sebagai lembaga konservasi, lanjut dia, kebun binatang juga dituntut tetap menjalankan fungsi utamanya, yakni menjaga keberlangsungan reproduksi satwa langka.

“Kehilangan dua anakan harimau ini menjadi pukulan berat, tapi juga momentum untuk berbenah,” ujarnya.

Ia menambahkan, evaluasi juga akan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta Kementerian Kehutanan guna memperbaiki sistem pengelolaan secara menyeluruh.

“Kami tetap berkomitmen menjaga animal welfare. Namun kejadian ini menunjukkan bahwa biosekuriti, terutama di perimeter kebun binatang, harus ditingkatkan secara signifikan,” katanya.

Sebelumnya, dua anak harimau Benggala bernama Huru dan Hara berusia delapan bulan dilaporkan mati pada Selasa, 24 Maret 2026, dan Kamis, 26 Maret 2026, di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo).

Hara dan Huru merupakan salah satu koleksi satwa di Bandung Zoo yang lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk jantan bernama Sahrulkan dan betina Jelita.

0 comments

    Leave a Reply