DPR Minta Pemerintah Perkuat Layanan Kesehatan Daerah Hadapi Penyakit Zoonosis Hantavirus | IVoox Indonesia

May 12, 2026

DPR Minta Pemerintah Perkuat Layanan Kesehatan Daerah Hadapi Penyakit Zoonosis Hantavirus

hantavirus
Ilustrasi hantavirus. (ANTARA/HO/Istoc)

IVOOX.id – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti pentingnya kesiapan layanan kesehatan daerah dalam mendeteksi dan menangani penyakit zoonosis secara cepat. Ia meminta pemerintah memperkuat sistem surveilans dan deteksi dini guna mencegah penyebaran virus yang berpotensi menular ke manusia.

“Kita bersyukur temuan suspect di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan WNA di Jakarta yang masuk kontak erat klaster MV Hondius telah dinyatakan negatif. Namun pemantauan dan surveilans harus terus diperkuat,” ujar Puan Maharani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Kasus Hantavirus menjadi perhatian global setelah menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius yang berlayar di Samudera Atlantik. Tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat virus tersebut. Salah satu variannya, yakni Andes virus, diketahui memiliki potensi penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu sehingga meningkatkan kekhawatiran internasional.

Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini termasuk kategori penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan sebelumnya mengungkap adanya 23 kasus Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi. Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan penting bagi pemerintah untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kesehatan, khususnya di daerah.

Menurut Puan, ancaman penyakit berbasis lingkungan sering kali pertama kali muncul di wilayah dengan kapasitas layanan kesehatan dan pengawasan lingkungan yang belum merata. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya fokus menangani kasus yang sudah muncul, tetapi juga memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan di daerah.

“Tetapi juga memperkuat kesiapan daerah, termasuk kesiapan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, laboratorium dan sarana penunjang lainnya, serta mekanisme deteksi dini, pelaporan yang cepat,” ujar Puan.

Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap masyarakat di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi harus menjadi perhatian utama pemerintah.

“Dan tentunya perlindungan masyarakat di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi harus menjadi perhatian,” katanya.

Puan menegaskan masyarakat harus merasakan kehadiran negara sejak awal munculnya ancaman kesehatan, bukan hanya ketika kasus telah meluas. Menurutnya, pemerintah perlu bergerak cepat, terbuka, dan memberikan rasa aman kepada publik melalui langkah yang jelas dan terukur.

“Kami di DPR melalui alat kelengkapan dewan terkait akan memastikan Pemerintah bergerak cepat, terbuka, dan mampu memberi rasa aman kepada masyarakat melalui langkah yang jelas dan dapat dipantau masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan negara dalam menghadapi ancaman kesehatan tidak hanya diukur dari rendahnya angka kasus, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga ketenangan masyarakat dan membangun kepercayaan publik.

“Juga dengan membangun kepercayaan publik, dan memastikan setiap warga merasa terlindungi ketika menghadapi potensi risiko kesehatan baru,” ujar Puan Maharani.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyatakan kasus suspek hantavirus pada seorang warga setempat telah dinyatakan negatif berdasarkan hasil laboratorium Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

"Pada tahun 2026 ini memang ada suspek hantavirus, tetapi hasilnya sudah keluar dua hari lalu dan hasilnya negatif," kata Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih, Minggu (10/5/2026), dikutip dari Antara.

Menurut dia, salah satu warga Kulon Progo, yang sebelumnya diduga terkena penyakit hantavirus, telah menjalani pemeriksaan laboratorium Kemenkes dan diklarifikasi oleh Dinkes Kabupaten Kulon Progo dan Dinkes Provinsi DIY.

"Iya, (hasilnya) negatif. Ini informasi dari Kemenkes, Dinas Kesehatan DIY sudah klarifikasi ke pusat. Jadi di Kulon Progo tidak ada kasus di manusia yang positif hantavirus," kata Susilaningsih.

Meskipun hasilnya negatif, masyarakat di Kabupaten Kulon Progo tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko penularan penyakit zoonosis tersebut, terutama terhadap tikus yang menjadi perantara penularan hantavirus.

"Ya, karena memang sebagai perantara virus itu hewan pengerat, seperti tikus. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk berperilaku hidup bersih dan sehat," jelasnya.

Menurut dia, berdasarkan data pada 2025, kasus hantavirus pertama kali ditemukan di DIY pada enam orang dengan kasus positif dari surveilans sentinel rutin. Enam pasien itu sembuh, tidak ada kasus kematian, serta tidak ditemukan kasus lainnya.

Sementara itu, di awal 2026 hingga saat ini belum ditemukan laporan kasus positif hantavirus dari sentinel rutin yang telah diperiksa laboratorium.

Terpisah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan hasil pemeriksaan Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di Indonesia dan berkontak erat dengan penumpang terjangkit Virus Hanta atau Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius negatif.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menyampaikan pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB Indonesia menerima notifikasi dari International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) yang menyatakan seorang WNA laki-laki berinisial KE (60) yang berdomisili di Jakarta Pusat berkontak erat dengan korban.

"Ia merupakan kontak erat dari kasus kedua (perempuan 69 tahun, meninggal) dan sempat satu penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg. Kondisi KE tidak bergejala, tetapi memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol dan riwayat vaping (rokok elektrik). Namun berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif Hantavirus," kata Andi dalam konferensi pers secara daring, Senin (11/5/2026), dikutip dari Antara.

Namun demikian Andi menegaskan pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat dan saat ini yang bersangkutan masih berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

0 comments

    Leave a Reply