David Sumual, kepala ekonom Bank Central Asia (BCA)

DP 0% Itu Saya Khawatir Kebablasan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengkaji melakukan relaksasi terhadap uang muka atau Down Payment (DP) Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) hingga 0%.

David Sumual, kepala ekonom Bank Cetral Asia

iVooxid, Jakarta – Ekonom khawatir kebablasan terkait Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewacanakan penurunan uang muka (Down Panyment) hingga 0% untuk kredit kendaraan bermotor. Mengapa?

Alasan kebablasan tersebut menurut David Sumual, kepala ekonom Bank Cetral Asia (BCA), jika setelah 2-3 tahun, pertumbuhan kredit mengalami overheating dan kondisi ekonomi keburu memburuk. Pada saat yang sama, otoritas atau pemerintah tidak sempat memperketat kembali aturannya.

Sebelumnya, lesunya bisnis pada industri pembiayaan bermotor, mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengkaji melakukan relaksasi terhadap uang muka atau Down Payment (DP) Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Rencananya, DP KKB akan dipangkas hingga 0%. “Jadi, memang penurunan DP itu harus sangat hati-hati,” kata dia. Berikut ini wawancara David Sumual dengan Jawarul Kunnas dari iVooxid, di Jakarta, Selasa (26/7/2016):

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewacanakan uang muka kredit kendaraan bermotor diturunkan nyaris 0%. Apa pendapat Anda?

Dari sisi konsumen atau nasabah, penurunan bunga kredit kendaraan sangat menguntungkan. Ini memudahkan mereka untuk mendapatkan mobil atau motor. Misalnya, kredit motor bagi tukang ojek untuk disewakan atau untuk kepentingan komersil lain.

Bagaimana dengan kredit kendaraan untuk kepentingan konsumtif bukan produktif?

Untuk kepentingan konsumtif, uang muka rendah bisa berbahaya. Apalagi, jika ditentukan DP-nya turun hingga 0%. Sebab, siklus bisnis yang turun-naik selalu terjadi seiring dengan kondisi makro ekonomi yang sedang menanjak atau sedang turun.

Oleh karena itu, kadang bisa juga debitor kendaraan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dari sisi nasabah mungkin menguntungkan tapi dari sisi risiko harus diperhatikan. Sewaktu-waktu saat ekonomi tidak lagi baik, seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 ini yang tidak terlalu baik, bisa mendorong kenaikan kredit macet. Kondisi ini bisa membahayakan institusi keuangan.

Uang muka untuk kredit kendaraan di sektor produktif tak masalah 0%?

Ya. Kecuali, kredit kendaraan itu digunakan untuk sektor produktif bukan konsumtif. Produktif bisa disewakan seperti Uber, Grab, Go Jek dan lain-lain. Untuk mendorong kinerja di sektor otomotif, penurunan DP mungkin bisa dilakukan.

Akan tetapi, penurunan DP hingga 0% itu saya khawatirkan kebablasan. Misalnya, setelah 2-3 tahun pertumbuhan kredit mengalami overheating dan kondisi ekonomi keburu memburuk kembali dan kita tidak sempat memperketat kembali aturannya. Jadi, memang penurunan DP itu harus sangat hati-hati.

Bagi lembaga keuangan, apa baik-buruknya jika uang muka kredit 0%?

Untuk bank sendiri, sebaiknya ada semacam keterikatan dengan nasabah melalui pembayaran DP itu tadi. Nasabah merasa terikat karena nasabah sudah membayar DP mobil atau rumah. Jika menunggak pun nantinya akan memicu perasaan sayang karena sudah membayar DP 10% atau 20%.

Jika tanpa uang muka, diibaratkan hanya menyewa. Rasa keterikatan nasabah dengan bank menjadi berkurang dan ini kurang baik bagi bank. Jadi, yang dikhawatirkan adalah ketika terjadi pemburukan ekonomi. Bagi saya, dalam kondisi ekonomi bagaimana pun, tetap harus ada uang muka meskipun kecil.

Apa skenario terburuk jika uang muka benar-benar direalisasikan 0%?

Krisis jika uang muka 0%. Dulu kasusnya di Amerika Serikat, terjadi krisis subprime mortgage yang salah satunya berasal dari uang muka nol persen. Krisis subprime mortgage berasal dari no job, no income, no down payment (DP), bahkan uang muka bisa minus.

Uang muka diberi pinjaman dan bahkan dikasih bonus. Lalu, pembayarannya dicicil karena saat itu terjadi perang harga di antara banyak perusahaan pembiayaan di AS. Semua itu berakibat tidak terlalu baik bagi perekonomian.

Dalam kondisi bagaimana uang muka 0% bisa diberlakukan?

Bisa juga uang muka 0% diberikan kepada nasabah yang jelas memiliki pekerjaan tetap. Jadi, uang muka 0% hanya bisa diberikan kepada nasabah yang status pekerjaanya jelas. Jadi, konsumen harus dipilah-pilah dengan persyaratan tertentu. Jika tidak punya pekerjaan dan pendapatan yang jelas, itu yang bahaya. Jika tidak punya kejelasan soal pekerjaan dan pendapatan, uang muka 0% sangat berisiko.

Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tertinggi kelima di dunia?

Memang meski pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di kisaran 5% merupakan yang tertinggi kelima di dunia saat ini, tapi ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak hati-hati. Pertumbuhan negara lain saat ini 1-2% bahkan ada yang minus. Setelah China, India, dan Vietnam, Produk Domestik Bruto (PDB) RI masih lumayan.

Meski tertinggi kelima di dunia, tapi pertumbuhan itu memang masih terhitung rendah. Hanya saja, pertumbuhan ekonomi yang rendah bukan berarti tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian dengan menurunkan uang muka demi pertumbuhan ekonomi itu. [jaw]

LEAVE A REPLY