Dokter Ungkap Usia Pasien Kanker Paru Indonesia 10 Tahun Lebih Muda Dibandingkan Negara Lain | IVoox Indonesia

26 Februari 2026

Dokter Ungkap Usia Pasien Kanker Paru Indonesia 10 Tahun Lebih Muda Dibandingkan Negara Lain

Dokter Spesialis Radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto
Dokter Spesialis Radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad (kiri ke-2) dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta, Rabu (25/2/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)

IVOOX.id – Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) mengungkapkan usia pasien kanker paru di Indonesia cenderung 10 tahun lebih muda dibandingkan negara lain. Peningkatan kasus, kata dia, juga terjadi pada perempuan yang tidak merokok.

“Di Indonesia usia kanker paru 10 tahun lebih muda dibandingkan di luar negeri. Angkanya juga meningkat terutama pada perempuan yang tidak merokok dan usia muda,” ujar Sita dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta Selatan yang digelar oleh kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals, Rabu (25/2/2026), dikutip dari Antara.

Dokter yang mendapat gelar spesialis dari Universitas Indonesia itu menjelaskan kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sering terjadi pada laki-laki di Indonesia dan menempati peringkat ketiga untuk keseluruhan kasus baru. Secara global, kanker paru berada pada peringkat pertama penyebab kematian akibat kanker.

Menurut Sita, faktor risiko terbesar kanker paru adalah paparan asap rokok. Selain itu, paparan asbes, polusi udara terutama partikel halus PM2,5, riwayat tuberkulosis, serta faktor genetik dalam keluarga juga meningkatkan risiko.

“Risiko yang paling tinggi adalah paparan asap rokok. Dengan menghindari asap rokok, sekitar 80 persen penyakit kronis termasuk kanker paru, penyakit jantung, dan stroke bisa dicegah,” katanya.

Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Onkologi Indonesia DKI Jakarta itu menambahkan sekitar 90 persen pasien kanker paru datang dalam stadium lanjut, padahal perkembangan stadium dari tahap awal ke lanjut bisa berlangsung cepat, yakni sekitar satu hingga satu setengah tahun.

Pada stadium dini, kanker paru masih dapat diobati dan peluang hidup jauh lebih baik dibandingkan stadium lanjut yang membutuhkan terapi lebih kompleks dan biaya lebih tinggi.

Sita menjelaskan skrining berbeda dengan diagnosis dini. Skrining dilakukan sebelum muncul gejala pada kelompok berisiko tinggi, sedangkan diagnosis dini dilakukan ketika gejala sudah muncul.

Di Indonesia, skrining kanker paru direkomendasikan pada kelompok berisiko tinggi berusia 45 hingga 71 tahun dengan riwayat merokok aktif, pasif, atau berhenti merokok kurang dari 15 tahun, serta individu dengan riwayat keluarga kanker paru. Pemeriksaan dilakukan menggunakan CT scan tanpa kontras dengan paparan radiasi rendah.

Ia menegaskan deteksi pada stadium awal sangat penting karena selisih satu stadium dapat meningkatkan biaya pengobatan hingga beberapa kali lipat.

Teknologi AI untuk Diagnosis Kanker Paru

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai dapat membantu dokter mendeteksi dini kanker paru melalui penandaan nodul atau benjolan kecil di paru yang berpotensi berkembang menjadi ganas.

“Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail," ujar Dokter Spesialis Radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta, Rabu (25/2/2026), dikutip dari Antara.

Deteksi ini dikatakan Dewi memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan.

Dalam acara kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals tersebut, ia mengatakan dalam pemeriksaan foto toraks atau rontgen dada, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru untuk selanjutnya dievaluasi lebih lanjut menggunakan CT scan.

Dewi juga menjelaskan tidak semua nodul paru merupakan kanker. Sebagian nodul bersifat jinak dan tidak memerlukan tindakan agresif. Dokter akan menilai bentuk, ukuran, serta faktor risiko pasien untuk menentukan tingkat kecurigaannya, dengan keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga medis.

Sementara itu, Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) mengatakan skrining dengan bantuan AI dapat membantu proses deteksi kanker paru secara lebih efisien, terutama dalam mengidentifikasi nodul yang berpotensi ganas pada tahap awal.

“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” kata dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Onkologi Indonesia DKI Jakarta itu, dikutip dari Antara.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia. Banyak kasus terdiagnosis pada stadium lanjut karena gejala awal kerap tidak spesifik atau menyerupai gangguan pernapasan biasa.

0 comments

    Leave a Reply