Dinkes Lampung Pantau Kasus ISPA Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

IVOOX.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung terus memperkuat kegiatan surveilans penyakit guna mengantisipasi potensi gangguan kesehatan di tengah masyarakat akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
"Kami terus melakukan pengamatan melalui kegiatan surveilans oleh tim di lapangan. Ini dilakukan untuk mengatasi serta mengantisipasi adanya potensi gangguan kesehatan akibat dampak erupsi seperti abu vulkanik," ujar Plt Kepala Dinkes Provinsi Lampung Djohan Lius di Bandarlampung, Rabu (9/9/2026), dikutip dari Antara.
Ia mengatakan pihaknya juga terus melakukan pemantauan terhadap angka kesakitan untuk penyakit yang timbul, sebagai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau seperti ISPA, iritasi mata, dan sebagainya.
"Bahkan untuk mempercepat penanganan penyakit-penyakit ini telah dibagi menjadi dua kelompok yakni penyakit yang berpotensi terjadi penularan seperti ISPA, Influenza Like Illness, serta radang paru-paru atau bronko pneumonia," katanya.
Djohan mengatakan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dampak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Provinsi Lampung mulai cenderung mengalami penurunan.
Pada Selasa, 8 September 2026, jumlah kasus ISPA di 15 kabupaten dan kota ada 1.281 kasus, dari sebelumnya di Senin, 7 September 2026, ada 1.993 kasus. Terjadi penurunan 712 kasus ISPA .
"Ini agak menurun dibandingkan di Senin yang tercatat ada 1.993 kasus. Jadi total kasus dari 4-8 September itu ada 6.671 kasus ISPA yang dilaporkan dari kabupaten serta kota di Provinsi Lampung," kata Djohan di Bandarlampung, Rabu (9/9/2026), dikutip dari Antara.
Dia melanjutkan pada Jumat (4 September 2026) tercatat kasus ISPA ada sebanyak 1.587 kasus, Sabtu (5 September 2026) ada 1.435 kasus, dan di Minggu (6 September 2026) ada 375 kasus ISPA.
"Setiap hari, dari kabupaten dan kota kami minta data dan yang sudah masuk direkapitulasi, lalu kami laporkan ke Pusdalops BPBD Provinsi Lampung. Ini dilakukan sebagai bentuk pemantauan situasi penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB)," ucap dia.
Sedangkan, kata dia, untuk penyakit serupa influenza atau Influenza Like Illness (ILI), totalnya ada 236 kasus.
Pada Jumat (4 September 2026) berjumlah kasus ILI sebanyak 61 kasus, Sabtu (5 September 2026) ada 51 kasus, Minggu (6 September 2026) sebanyak 29 kasus, Senin (7 September 2026) ada 44 kasus, Selasa (8 September 2026) ada 51 kasus ILI.
"Sedangkan untuk lneumonia total ada 58 kasus. Itu adalah tiga penyakit saluran pernapasan yang berpotensi terjadi penularan. Kalau dilihat memang masih sangat fluktuatif, dan dari sisi pelayanan di kabupaten dan kota mereka masih sangat terkendali untuk mengatasi hal tersebut," tambahnya.
Pneumonia pada Jumat (4 September 2026) berjumlah 15 kasus, Sabtu (5 September 2026) ada 15 kasus, Minggu (6 September 2026) sebanyak 2 kasus, Senin (7 September 2026) ada 10 kasus, dan Selasa (8 September 2026) ada 16 kasus.
Kelompok penyakit terdampak namun tidak berpotensi menular seperti asma, penyakit kulit, sakit mata dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang juga ditemukan kasusnya beberapa waktu ini.
"Berdasarkan pengamatan 4-8 September 2026, pemantauan situasi penyakit tidak menular berdasarkan laporan 15 kabupaten dan kota untuk asma total ada 182 kasus, penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kudis ada 250 kasus," ucap dia.
Ia melanjutkan, untuk kasus sakit mata total ada 194 kasus, heat stroke total terdapat 40 kasus, dan penyakit paru obstruktif kronis total berjumlah 219 kasus.
Terinci untuk jumlah kasus asma di Jumat (4 September 2026) ada 38 kasus, di Sabtu (5 September 2026) ada 29 kasus, Minggu (6 September 2026) ada 8 kasus, Senin (7 September 2026) ada 63 kasus dan Selasa (8 September 2026) ada 44 kasus.
Sedangkan untuk penyakit kulit berupa gatal-gatal dan kudis di di Jumat (4 September 2026) ada 56 kasus, di Sabtu (5 September 2026) ada 48 kasus, Minggu (6 September 2026) ada 4 kasus, Senin (7 September 2026) ada 70 kasus dan Selasa (8 September 2026) ada 72 kasus.
Kasus sakit mata terinci di Jumat (4 September 2026) ada 46 kasus, di Sabtu (5 September 2026) ada 28 kasus, Minggu (6 September 2026) ada 5 kasus, Senin (7 September 2026) ada 60 kasus dan Selasa (8 September 2026) ada 55 kasus.
Lalu kasus heat stroke di Jumat (4 September 2026) ada 5 kasus, di Sabtu (5 September 2026) ada 10 kasus, Minggu (6 September 2026) ada 1 kasus, Senin (7 September 2026) ada 20 kasus dan Selasa (8 September 2026) ada 4 kasus.
Kemudian untuk kasus penyakit penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) di Jumat (4 September 2026) ada 50 kasus, di Sabtu (5 September 2026) ada 38 kasus, Minggu (6 September 2026) ada 2 kasus, Senin (7 September 2026) ada 77 kasus dan Selasa (8 September 2026) ada 52 kasus.
Lima Rumah Sakit Rujukan Regional
Dinkes Provinsi Lampung menyatakan pembagian 15 kabupaten dan kota dalam lima regional sistem rujukan akan mempercepat penanganan kesehatan masyarakat atas dampak bencana di wilayah tersebut.
"Kami telah membagi 15 kabupaten dan kota dalam lima regional sistem rujukan. Jadi setiap fasilitas kesehatan yang ada di kabupaten dan kota diminta untuk meningkatkan kesiagaan, baik di Puskesmas Pembantu, Puskesmas, maupun Rumah Sakit Umum Daerah," ujarnya.
Ia mengatakan hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi, serta mempercepat penanganan kesehatan dampak bencana khususnya terkait erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Sebagai upaya antisipasi, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung telah menerbitkan Surat Edaran tentang Kewaspadaan dan Langkah Antisipasi Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap Kesehatan Masyarakat. Surat edaran ini menjadi pedoman bagi fasilitas kesehatan dan jajaran kesehatan di kabupaten dan kota dalam meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan," katanya.
Kemudian, pihaknya juga telah menetapkan berdasarkan regional lima rumah sakit umum daerah di kabupaten dan kota sebagai rujukan regional bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan lanjutan meliputi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek di Kota Bandarlampung, Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu, Rumah Sakit Umum Daerah Alimuddin Umar di Kabupaten Lampung Barat, Rumah Sakit Umum Daerah Menggala di Kabupaten Tulang Bawang, dan Rumah Sakit Umum Daerah Ahmad Yani di Kota Metro.
"Adapun rujukan tertinggi ditugaskan kepada tiga Rumah Sakit Umum Daerah Pemerintah Provinsi Lampung yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Bandar Negara Husada, Rumah Sakit Umum Daerah Alamsyah Ratu Perwiranegara dan sebagai rujukan tertinggi adalah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek," ucap dia.
Menurut dia, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung terus berupaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau melalui sejumlah hal seperti pemantauan kesehatan masyarakat, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta penguatan surveilans terhadap potensi gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata dan kulit, serta beberapa penyakit lain akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.


0 comments