Di Tengah Gempuran Digital, PERDIBROFI Jabar Perkuat Kompetensi Broadcasting Guru

IVOOX.id — Di tengah derasnya arus transformasi digital yang mengubah wajah industri media, satu pertanyaan penting muncul: apakah dunia pendidikan mampu mengikuti kecepatan perubahan tersebut?
Pertanyaan itu menjadi latar yang terasa nyata dalam gelaran FOKUS 4 (Forum Obrolan Kompetensi dan Update Skill) yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Perkumpulan Pendidik Broadcasting dan Perfilman Indonesia (PERDIBROFI) Jawa Barat di Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, Bandung, Sabtu (6/6/2026).
Forum yang telah memasuki edisi keempat ini bukan sekadar pertemuan rutin para pendidik. Di balik diskusi yang berlangsung sepanjang kegiatan, tersimpan upaya serius untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri media yang terus berkembang dengan kompetensi yang diajarkan di ruang-ruang kelas.
Peserta datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, mulai dari Garut, Bandung, Tasikmalaya, Indramayu hingga Purwakarta. Mereka membawa kegelisahan yang sama: bagaimana menyiapkan generasi muda agar mampu beradaptasi dengan dunia broadcasting dan perfilman yang kini berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, serta munculnya berbagai platform media baru.
Tema yang diangkat dalam FOKUS 4, yakni penguatan strategi dan kolaborasi untuk memajukan pendidikan, industri, serta kompetensi broadcasting dan perfilman, menjadi relevan dengan tantangan yang dihadapi sekolah dan perguruan tinggi saat ini.
Sejumlah akademisi hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut. Di antaranya Ketua Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Telkom University Rana Akbari Fitriawan, Pembina PERDIBROFI Jawa Barat sekaligus dosen Seni Rupa Telkom University Firdaus Azwar Ersyad, serta dosen Ilmu Komunikasi Rizca Haqqu.
Mereka membahas berbagai perkembangan terbaru dalam dunia media dan industri kreatif, termasuk pentingnya memperkuat keterampilan produksi konten, pengelolaan informasi, hingga kemampuan beradaptasi dengan ekosistem media digital yang semakin kompleks.
Bagi para guru yang hadir, materi yang disampaikan tidak berhenti pada aspek teoritis. Fokus utama justru diarahkan pada penerapan praktis yang dapat langsung digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Saat ini, sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Sekolah juga berkembang menjadi ruang produksi informasi yang aktif mendokumentasikan berbagai kegiatan, membangun citra institusi, dan berinteraksi dengan masyarakat melalui berbagai platform digital.
Karena itu, kemampuan memproduksi berita, mengelola media sekolah, hingga membuat konten audiovisual menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan oleh tenaga pendidik.

Anggota Perkumpulan Pendidik Broadcasting dan Perfilman Indonesia (PERDIBROFI) Jawa Barat tampak antusias membahas kompetensi dan keahlian siswa menghadapi tantangan era digital. IVOOX.ID/dokumentasi
Hal tersebut dirasakan langsung oleh Tepy Oktary, guru dari SMK Terpadu Al Ikhwan Tasikmalaya. Menurutnya, FOKUS 4 memberikan perspektif baru mengenai bagaimana sekolah dapat mengelola informasi secara lebih profesional.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru karena materi yang disampaikan membantu kami memahami bagaimana mengelola dan memproduksi berita di sekolah,” ujarnya dalam rilis yang diterima Ivoox.id.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi di dunia pendidikan. Di era digital, kemampuan literasi media tidak lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan yang melekat pada proses pendidikan itu sendiri.
Sekolah yang mampu mengelola informasi secara baik tidak hanya lebih mudah menjangkau masyarakat, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk membangun ekosistem pembelajaran yang kreatif dan adaptif.
Di sisi lain, PERDIBROFI Jawa Barat melihat pentingnya memperluas ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Menurut Pembina PERDIBROFI Jawa Barat, Dr. Firdaus Azwar Ersyad, forum seperti FOKUS 4 merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi kepada masyarakat.
“Ini merupakan inisiasi dan bentuk kontribusi akademisi kepada masyarakat agar senantiasa memberi dampak positif bagi kemajuan pendidikan,” kata Firdaus.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan kompetensi broadcasting dan perfilman tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja sama yang melibatkan guru, akademisi, sekolah, perguruan tinggi, hingga pelaku industri kreatif.
Kolaborasi menjadi kata kunci penting ketika dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan teknis, kreativitas, serta kesiapan menghadapi perubahan teknologi yang terus berlangsung.
Dalam konteks Jawa Barat, kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak. Provinsi ini memiliki jumlah sekolah vokasi dan perguruan tinggi yang besar, sekaligus menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri kreatif nasional. Karena itu, penguatan kompetensi broadcasting dan perfilman memiliki dampak strategis bagi pengembangan sumber daya manusia di masa depan.
Melalui FOKUS 4, PERDIBROFI Jawa Barat berharap lahir ekosistem pendidikan broadcasting dan perfilman yang lebih adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan industri. Upaya tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa ruang-ruang kelas tidak tertinggal dari perkembangan dunia nyata.


0 comments