Dari Sisi Arena: Merawat Mimpi, Membangun Prestasi | IVoox Indonesia

Dari Sisi Arena: Merawat Mimpi, Membangun Prestasi

Dari Sisi Arena: Merawat Mimpi, Membangun Prestasi

IVOOX.id - Di balik setiap medali yang gemerlap, tersimpan perjuangan yang tak selalu tertangkap kamera. Ada waktu yang diinvestasikan, disiplin yang ditempa, strategi yang disusun, dan kegigihan untuk bangkit dari keterbatasan. Di sisi arena, para pelatih mendampingi atlet menempuh jalan panjang menuju prestasi.


Asian Games ke-20 di Aichi-Nagoya, Jepang, pada Oktober 2026 menjadi panggung persaingan atlet terbaik Asia sekaligus bukti pentingnya peran pelatih. Kontingen Merah Putih meraih 39 medali, terdiri atas lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Raihan lima emas itu melampaui target empat emas yang ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah kepemimpinan Erick Thohir.

Di balik pencapaian tersebut, para pelatih merancang latihan, menyusun strategi, menjaga motivasi, dan membantu atlet menghadapi tekanan. Mereka tak hanya melatih fisik, tetapi juga menempa ketangguhan mental.

Ari Kristianto, pelatih BMX Racing putri Indonesia, merasakan tantangan itu saat mendampingi Jasmine Azzahra. Cedera Jasmine mengharuskannya menyesuaikan program latihan agar persiapan tetap berjalan tanpa mengabaikan pemulihan. Menghadapi atlet Jepang dan China yang lebih berpengalaman, Ari juga memanfaatkan pendekatan ilmu pengetahuan olahraga (sport science) untuk menyusun strategi.

Menjelang final, Ari berupaya membangun kepercayaan diri Jasmine setelah berbulan-bulan menjalani pemusatan latihan. Pendampingan itu mengantarkan Jasmine meraih perunggu, sekaligus mengulang pencapaiannya pada Asian Games Hangzhou 2023.

Peran pelatih juga terlihat dalam perjalanan atlet angkat besi Rahmat Erwin Abdullah bersama ayah sekaligus pelatihnya, Erwin Abdullah. Bagi Erwin, menjaga performa putranya tak cukup dengan mengatur beban dan repetisi latihan. Ia juga perlu memahami kondisi psikologis Rahmat, terutama ketika kejenuhan melanda.

Saat itu, Erwin mengurangi intensitas latihan dan mengajak Rahmat berbincang tentang hal-hal di luar olahraga. Ia memahami bahwa dukungan tak selalu berupa instruksi keras. Terkadang, atlet hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Di arena, Erwin kembali memberikan instruksi singkat agar Rahmat fokus pada angkatan berikutnya. Rahmat pun meraih emas sekaligus memecahkan rekor dunia kelas 75 kilogram dengan total angkatan 366 kilogram dan clean and jerk 206 kilogram. Prestasi itu lahir dari kekuatan fisik, ketahanan mental, dan pendampingan yang memahami kebutuhan atlet.

Dari cabang padel yang menjalani debut di Asian Games, pelatih Ariant Moya Rotger turut mengantarkan pasangan Fitriani Sabatini/Fadona Kusumawati meraih perak dan Beatrice Gumulya/Novela Putria memperoleh perunggu.

Ariant menekankan kesiapan mental menghadapi tekanan dan kualitas lawan. Para pemain berlatih selama lima pekan di Spanyol, kemudian melanjutkan persiapan di Jakarta dengan intensitas lima hingga tujuh jam sehari. Latihan itu mengasah ketahanan, koordinasi, dan strategi agar pemain mampu mengambil keputusan tepat saat pertandingan berlangsung.

Dari BMX Racing, angkat besi, hingga padel, para pelatih menjalankan peran yang melampaui program latihan. Mereka mengevaluasi kekurangan, mencari jalan pemulihan saat cedera datang, memberi ruang ketika kejenuhan melanda, dan menjaga ketenangan saat tekanan mencapai puncaknya.

Medali memang dikalungkan kepada atlet. Nama mereka tercatat di papan skor dan mendapat sambutan ketika lagu kebangsaan berkumandang. Namun, di balik setiap pencapaian, ada tangan yang mengarahkan, suara yang menguatkan, dan kesetiaan untuk mendampingi hingga garis akhir.

Kontribusi pelatih mungkin tak selalu mendapat sorotan sebesar kemenangan atlet. Namun, keberhasilan Indonesia di panggung Asia turut bertumpu pada dedikasi mereka dalam membentuk kesiapan, ketangguhan, dan keyakinan atlet.

Kemenangan tak pernah benar-benar lahir dari satu orang. Ia tumbuh dari kerja bersama dan pengorbanan yang kerap luput dari pandangan. Di balik kilau medali dan gemuruh tepuk tangan, para pelatih menorehkan jejak pengabdian yang melekat pada setiap langkah menuju kemenangan. Mereka mungkin berdiri di sisi arena, tetapi peran mereka turut mengantarkan Merah Putih menuju kejayaan. Merekalah pahlawan di sisi arena.

Foto & teks: Fauzan

Editor: Ismar Patrizki

0 comments

    Leave a Reply