Danantara Maksimalkan Tenaga Kerja Lokal pada Proyek Waste-to-Energy | IVoox Indonesia

July 5, 2026

Danantara Maksimalkan Tenaga Kerja Lokal pada Proyek Waste-to-Energy

Petugas melakukan aktivitas di pusat pengolahan sampah
Ilustrasi - Petugas melakukan aktivitas di pusat pengolahan sampah. ANTARA/HO-Danantara Indonesia

IVOOX.id – PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, berupaya untuk mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal dalam pengembangan proyek pengelolaan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE).

Chief Executive Officer Denera Fadli Rahman menyoroti pentingnya keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam implementasi WtE, baik dalam proses pengembangan maupun pengoperasian fasilitas tersebut.

“Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu (4/7/2026), dikutip dari Antara.

Danantara Indonesia memproyeksikan dibutuhkan 500-1.000 pekerja untuk menyelesaikan tahap pembangunan setiap fasilitas Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), yang direncanakan berjumlah 33 unit di seluruh Indonesia.

Sementara jumlah tenaga kerja yang diperlukan dari tahap pembangunan hingga pengoperasian diprediksi mencapai 130 ribu orang.

Fadli menyatakan, permasalahan pengelolaan sampah sudah menjadi isu generasional dan telah berkembang menjadi isu sosial yang dapat menentukan kualitas hidup masyarakat di masa mendatang.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung setiap upaya penanganan sampah, baik skala kecil maupun besar, dari hulu hingga hilir, mulai dari pemilahan sampah sederhana hingga penerapan berbagai teknologi pengolahan tingkat lanjut.

“Mari kita bersama-sama mendukung setiap upaya yang dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia,” kata Fadli Rahman.

Dalam kesempatan berbeda, Sustainability Provocateur dan Founder Social Investment Indonesia, Jalal, menuturkan pembangunan fasilitas WtE harus berjalan seiring dengan penguatan budaya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, kawasan komersial, dan industri.

Hal tersebut karena tantangan pengelolaan sampah tidak hanya terletak pada teknologi, tapi juga pada karakteristik sampah yang didominasi bahan organik dengan kadar air tinggi sehingga dibutuhkan pemilahan sebelum diproses lebih lanjut.

Ia juga menyatakan bahwa pelibatan seluruh komponen masyarakat terdampak secara bermakna (meaningful engagement) harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proyek WtE. Masyarakat harus mendapatkan manfaat ekologi, ekonomi dan sosial dari keberadaan proyek tersebut.

“Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun. Tanpa itu, WtE berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang justru menjadi fondasi keberlanjutannya,ˮ kata Jalal.

 

0 comments

    Leave a Reply