CERAH Dorong Percepatan Proyek PLTS 100 GW untuk Kurangi Ketergantungan pada Batu Bara | IVoox Indonesia

June 22, 2026

CERAH Dorong Percepatan Proyek PLTS 100 GW untuk Kurangi Ketergantungan pada Batu Bara

perawatan panel surya di Masjid Istiqlal
Arsip - Petugas melakukan perawatan panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (6/5/2026). Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2026 hingga 2028 guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi energi. ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian/agr

IVOOX.id – Policy Strategist Coordinator CERAH Dwi Wulan Ramadani mendorong percepatan proyek pembangunan 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengurangi ketergantungan penggunaan batu bara.

“Ketergantungan listrik kita sekitar lebih dari 60 persen terhadap PLTU membuat ketersediaan listrik kita rentan karena harus menyesuaikan ketersediaan pasokan batu bara,” ujar Dwi dalam keterangan resminya, Jumat (19/6/2026), dikutip dari Antara.

Dwi mengatakan, mempertahankan PLTU bermasalah akan merugikan Indonesia. Dengan ambisi Presiden Prabowo Subianto membangun PLTS 100 GW, seharusnya proyek PLTU bermasalah langsung digantikan dengan PLTS.

Apalagi, lanjut dia, pemadaman listrik bergilir tetap saja terjadi di sejumlah daerah meski Indonesia mengandalkan produksi batu bara dalam negeri.

“Pengembangan PLTS harus diimbangi dengan pensiun dini PLTU agar Indonesia tidak mengulang kejadian kelebihan pasokan beberapa tahun silam, sekaligus memastikan proyek 100 GW terealisasi dan tidak berpotensi menjadi aset terlantar (stranded asset) yang menimbulkan kerugian negara,” ujar Dwi.

Rencana pemerintah membangun 100 GW PLTS harus dibarengi dengan konsistensi untuk mengurangi ketergantungan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 PLN.

Apalagi, ucapnya, dari total tambahan PLTU 6,3 GW dalam RUPTL, beberapa di antaranya terindikasi mangkrak.

PLN sendiri mengakui masih terdapat 34 PLTU yang masuk kategori terkendala dalam RUPTL 2025–2034, sebagian akan disetop dan sisanya dilanjutkan atau diganti dengan pembangkit listrik bahan bakar lain.

Namun, selain daftar tersebut, sejumlah organisasi masyarakat sipil juga menemukan PLTU lain yang juga terseok dalam pembangunannya, yakni PLTU Jambi 1 dan 2, Sumut 1, dan Kalselteng 3.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi Oscar Anugrah menambahkan, sejumlah PLTU di Sumatera menghadapi tantangan utilisasi dan prospek ekonomi jangka panjang seiring meningkatnya komitmen transisi energi.

Contohnya, ekspansi PLTU Jambi-1 dan Jambi-2 masing-masing 600 MW yang justru mangkrak. Ini menjadi bukti pemerintah perlu meninjau ulang proyek-proyek pembangkit batu bara yang belum beroperasi, dan mendorong percepatan pengembangan pembangkit hijau dalam revisi RUPTL.

“Kami menyambut positif rencana pemerintah memasukkan pengembangan PLTS 100 GW ke dalam revisi RUPTL PLN. Revisi ini harus menjadi momentum untuk meninjau kembali proyek-proyek PLTU baru yang belum beroperasi,” kata Oscar, dikutip dari Antara.

0 comments

    Leave a Reply