CELIOS: Kenaikan Pertamax Menjadi Rp16.250 per Liter Berpotensi Menekan Kelas Menengah Bawah | IVoox Indonesia

June 16, 2026

CELIOS: Kenaikan Pertamax Menjadi Rp16.250 per Liter Berpotensi Menekan Kelas Menengah Bawah

Direktur Kebijakan Fiskal Celios Media Wahyudi Askar
Ilustrasi - Direktur Kebijakan Fiskal Celios Media Wahyudi Askar saat peluncuran riset di Kantor Celios, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

IVOOX.id – Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai kenaikan harga Pertamax RON 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian masyarakat. Selain dinilai memberatkan kelas menengah, kebijakan tersebut juga dikhawatirkan memicu peningkatan konsumsi BBM bersubsidi dan memperbesar tekanan terhadap anggaran negara.

Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, menegaskan anggapan bahwa kenaikan harga Pertamax hanya berdampak pada kelompok berpenghasilan tinggi merupakan pandangan yang keliru. Menurutnya, pengguna Pertamax juga berasal dari kelompok pekerja dan masyarakat kelas menengah yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari.

“Pandangan bahwa kenaikan Pertamax 92 hanya memukul orang kaya merupakan penyederhanaan yang keliru. Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya,” ujar Media dalam keterangan resmi Rabu (10/6/2026).

Ia menambahkan, selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite dapat mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM bersubsidi. Kondisi tersebut dinilai berisiko meningkatkan beban subsidi energi pemerintah.

Senada dengan itu, Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menyebut keputusan mempertahankan harga Pertalite di tengah kenaikan Pertamax akan meningkatkan permintaan terhadap BBM bersubsidi tersebut.

“Ketika pemerintah memutuskan menaikkan harga Pertamax 92 tanpa menaikkan harga Pertalite, maka ada konsekuensi kenaikan permintaan Pertalite. Akibatnya, kuota Pertalite akan meningkat dan menyebabkan subsidi untuk BBM akan membengkak juga,” kata Nailul.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai kenaikan harga Pertamax tidak bisa dipandang sekadar sebagai penyesuaian harga pasar. Menurutnya, kebijakan tersebut mencerminkan semakin terbatasnya ruang fiskal pemerintah di tengah tingginya beban utang dan potensi kekurangan penerimaan negara.

“Utang jatuh tempo dan kewajiban bunga menembus Rp1.434 triliun, tahun ini salah satu puncak pembayaran utang. Outlook penerimaan pajak shortfall diperkirakan Rp300-340 triliun, dan kebutuhan belanja program masih besar. Pemerintah sudah kehabisan amunisi menjaga harga energi tetap stabil,” ujar Bhima.

Ia juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang disebut turut memperbesar tekanan terhadap biaya impor BBM dan belanja subsidi energi.

CELIOS memperkirakan dampak kenaikan harga Pertamax dapat dirasakan dalam bentuk penurunan daya beli kelas menengah, meningkatnya jumlah masyarakat rentan miskin, kenaikan harga pangan, hingga potensi lonjakan pemutusan hubungan kerja pada kuartal ketiga tahun ini.

Menurut Media Wahyudi Askar, pemerintah sebenarnya memiliki sejumlah opsi lain untuk mengatasi tekanan fiskal selain menaikkan harga BBM. “Ini sangat aneh, ketika negara membutuhkan tambahan uang, yang diminta berkorban adalah kelas menengah bawah. Mereka dijadikan penanggung biaya atas masalah fiskal yang lahir dari buruknya pilihan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah sendiri,” katanya.

0 comments

    Leave a Reply