Bukan Sekedar Organisasi Wartawan, PWI Surakarta Didorong Menjadi Rumah Kolaborasi Ekosistem Media | IVoox Indonesia

Bukan Sekedar Organisasi Wartawan, PWI Surakarta Didorong Menjadi Rumah Kolaborasi Ekosistem Media

WhatsApp Image 2026-09-30 at 14 21 40

IVOOX.id, Solo - Perubahan industri media dalam beberapa tahun terakhir membuat organisasi profesi wartawan menghadapi tantangan yang berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu. Perubahan pola konsumsi informasi, pertumbuhan media digital, hadirnya content creator, hingga perkembangan teknologi kecerdasan artifisial membuat batas antara industri pers, media digital, dan ekosistem kreator semakin dinamis.

Di tengah perubahan tersebut, Kota Surakarta memiliki posisi yang menarik. Kota ini bukan hanya memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pers Indonesia, tetapi juga memiliki komunitas media, kampus, pelaku industri kreatif, hingga generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem digital.

Kepala Monumen Pers Nasional, Widodo Hastjaryo, melihat kondisi tersebut sebagai modal yang perlu dikembangkan bersama. Hal itu menjadi semakin relevan setelah Widodo dipercaya menjadi bagian dari Dewan Penasihat PWI Surakarta.

Namun, menurutnya, peran tersebut seharusnya tidak berhenti pada persoalan organisasi atau agenda seremonial. Justru yang lebih penting adalah bagaimana PWI Surakarta dapat membaca perubahan ekosistem media dan membantu anggotanya beradaptasi.

“Saya melihat Surakarta memiliki ekosistem pers yang cukup lengkap. Ada sejarah, ada media, ada wartawan, ada kampus, ada komunitas dan sekarang juga tumbuh generasi baru yang bergerak di media digital. Tantangannya adalah bagaimana semua potensi itu bisa saling terhubung,” kata Widodo, saat ditemui di Monumen Pers Surakarta, 1 Oktober 2026.

Dari Wartawan ke Ekosistem Informasi

Menurut Widodo yang baru saja dilantik sebagai salah satu Dewan PenasihatPWI Surakarta, perubahan media tidak cukup dilihat sebagai perpindahan dari koran ke portal berita atau dari televisi ke media sosial.

Perubahan yang terjadi jauh lebih mendasar. Masyarakat kini memiliki banyak pilihan sumber informasi dan setiap orang dapat memproduksi serta menyebarkan informasi melalui platform digital. Karena itu, menurutnya, kompetensi wartawan juga perlu terus berkembang.

“Hari ini seorang wartawan tidak hanya dituntut mampu menulis berita. Dia harus memahami bagaimana informasi dikonsumsi masyarakat, bagaimana bekerja dengan data, memahami platform digital, visual, video, bahkan perkembangan AI. Tetapi di tengah semua perubahan teknologi itu, prinsip jurnalistik seperti verifikasi, akurasi dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian Monumen Pers Nasional terhadap transformasi digital. Sebelumnya, Monumen Pers Nasional pernah menggelar workshop mengenai kemampuan wartawan di era digital dengan melibatkan praktisi media dan akademisi.

“Menurut saya PWI memiliki ruang untuk mengambil peran, bukan sekadar menjadi organisasi yang mengurus kepentingan internal anggotanya, tetapi juga menjadi knowledge hub yang mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem informasi,” jelas Widodo. 


PWI Surakarta Perlu Menjadi Ruang Belajar

Salah satu hal yang menurut Widodo penting dikembangkan adalah budaya belajar.

“Kalau boleh berharap, saya ingin PWI Surakarta menjadi tempat orang belajar. Wartawan senior bisa berbagi pengalaman kepada wartawan muda. Wartawan bisa bertemu akademisi. Media konvensional bisa berdiskusi dengan media digital. Bahkan creator dan komunitas juga bisa diajak berbicara tentang bagaimana informasi hari ini diproduksi dan dikonsumsi,” katanya.

Menurutnya, pola tersebut dapat membuat organisasi wartawan menjadi lebih relevan dengan perkembangan zaman.

PWI Surakarta juga dapat mengambil peran dalam pengembangan kompetensi anggota, mulai dari jurnalistik digital, data journalism, video journalism, pengelolaan media sosial, keamanan digital, hingga pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Bukan berarti teknologi menggantikan prinsip jurnalistik.

Beluai berharap teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat kemampuan wartawan dalam mencari, memverifikasi, mengolah dan menyampaikan informasi.

“Teknologi boleh berubah secepat apa pun, tetapi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang benar tidak pernah berubah. Di situlah profesi wartawan tetap memiliki relevansi,” kata Widodo.

Sejarah Pers Surakarta Menjadi Modal

Widodo melihat posisi Monumen Pers Nasional juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekosistem pers Surakarta. Monumen Pers Nasional menyimpan berbagai koleksi sejarah pers Indonesia, termasuk koran dan majalah dari berbagai periode. Dalam berbagai kesempatan, Widodo juga menekankan fungsi koleksi pers sebagai sumber dokumentasi dan penelitian.

Menurutnya, sejarah pers seharusnya tidak hanya menjadi sesuatu yang disimpan di museum. Sejarah tersebut harus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi baru.

“Kita punya kekayaan yang luar biasa di Surakarta. Ada sejarah pers yang panjang. Ada Monumen Pers. Ada PWI. Ada media dan perguruan tinggi. Kalau semua ini hanya berjalan sendiri-sendiri, potensinya tidak maksimal. Tetapi kalau dibuat menjadi ekosistem belajar bersama, dampaknya bisa jauh lebih besar,” tuturnya.

 

Membuka Ruang Kolaborasi dengan Generasi Baru

Salah satu tantangan lain yang menurut Widodo perlu diperhatikan adalah hubungan antara organisasi pers dengan generasi muda.

Generasi muda hari ini tidak selalu mengenal media melalui koran, televisi atau portal berita. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan informasi melalui video pendek, podcast, media sosial, komunitas digital dan berbagai platform baru. Karena itu, pendekatan kepada mereka juga perlu berubah.

“Jangan sampai kita berbicara tentang generasi muda tanpa pernah memberi ruang kepada mereka untuk berbicara. PWI perlu mendengar bagaimana mereka melihat media, bagaimana mereka mendapatkan informasi dan apa yang mereka harapkan dari jurnalisme,” tegasnya

Menurut Widodo, ruang kolaborasi tersebut bisa diwujudkan melalui diskusi publik, kelas jurnalistik, fellowship, program bersama kampus, kompetisi karya jurnalistik, hingga kolaborasi dengan komunitas kreatif.

Dengan demikian, organisasi profesi wartawan tidak hanya berbicara tentang wartawan yang sudah bekerja di ruang redaksi, tetapi juga ikut mempersiapkan generasi yang akan mengisi ekosistem informasi di masa depan.

Monumen Pers dan PWI Bisa Saling Menguatkan

Dalam konteks tersebut, Widodo melihat Monumen Pers Nasional dan PWI Surakarta memiliki ruang kolaborasi yang cukup luas. Monumen Pers dapat menjadi ruang sejarah, literasi, edukasi dan dokumentasi, sementara PWI memiliki jaringan profesional wartawan dan pengalaman dalam praktik jurnalistik.

“Saya kira Monumen Pers tidak boleh hanya menjadi tempat untuk melihat benda-benda sejarah. Monumen Pers harus terus hidup sebagai ruang bertemu dan belajar. PWI juga punya peran penting untuk membuat ruang itu semakin hidup melalui kegiatan-kegiatan yang relevan dengan perkembangan pers hari ini,” ungkapnya

Pada akhirnya, menurut Widodo, tantangan PWI Surakarta bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti perkembangan teknologi. Keduanya justru harus berjalan bersama.

“Kita tidak perlu meninggalkan nilai-nilai lama dalam jurnalistik. Yang perlu berubah adalah cara kita bekerja, cara kita belajar dan cara kita berinteraksi dengan masyarakat. Integritas, verifikasi dan kepentingan publik tetap menjadi fondasi. Teknologi adalah alat untuk memperkuatnya,” tutup Widodo.

Bapak Widodo Hastjaryo Kepala Monumen Pers Solo, telah dilantik sebagai salah satu Dewan Penasihat PWI Surakarta, pada pelantikan pengurus PWI Surakarta masa

0 comments

    Leave a Reply