Bukan Sekadar Konten, Cerita Cireundeu Kini Jadi Senjata Promosi Wisata

IVOOX.id – Pelatihan storytelling dari Telkom University membuka jalan baru bagi Kampung Adat Cireundeu untuk memperkenalkan budaya, wisata, dan kearifan lokal melalui media sosial.
Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak destinasi wisata berlomba-lomba menarik perhatian publik melalui foto-foto indah dan video yang memikat. Namun bagi Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi, kekuatan terbesar justru bukan terletak pada pemandangan alamnya semata, melainkan pada cerita yang hidup di balik setiap tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cerita tentang masyarakat adat yang menjadikan singkong sebagai pangan utama, tentang harmoni manusia dengan alam, hingga kisah perjalanan menuju Puncak Salam yang menyuguhkan panorama perbukitan. Selama ini, berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya tersampaikan secara optimal di ruang digital.
Kesadaran itulah yang mendorong Telkom University melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik menggelar pelatihan manajemen media sosial dan storytelling bagi pengelola media sosial serta pelaku UMKM di Kampung Adat Cireundeu, Rabu (10/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan potensi wisata budaya secara lebih efektif.
Pelatihan menghadirkan dosen Ilmu Komunikasi Telkom University, Yoka Pradana, yang membekali peserta dengan berbagai keterampilan penting dalam pengelolaan media sosial. Mulai dari memahami target audiens, menyusun pesan promosi yang tepat, hingga membangun narasi yang mampu menggugah perhatian publik.
Di era ketika algoritma media sosial semakin mengutamakan konten yang relevan dan autentik, kemampuan bercerita menjadi salah satu faktor penting dalam strategi promosi digital. Wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman dan kisah yang memiliki makna.
"Keberadaan Kampung Adat Cireundeu memiliki banyak potensi cerita yang dapat diangkat di media sosial, mulai dari tradisi pangan lokal berbasis singkong, aktivitas wisata alam seperti Hiking Puncak Salam, hingga kehidupan masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam. Potensi tersebut dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengenal Cireundeu lebih dekat," ujar Yoka dalam rilis yang diterima Ivoox.id.
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan paradigma promosi wisata saat ini. Jika dahulu promosi lebih banyak berfokus pada objek wisata, kini perhatian bergeser pada pengalaman, identitas, dan cerita yang menyertainya.

Narasumber memaparkan materi pelatihan pengelolaan media sosial kampung adat Cireundeu. IVOOX.ID/dokumentasi
Melalui sesi praktik, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung mencoba menyusun konten storytelling yang dapat digunakan untuk promosi wisata dan budaya. Mereka diajak menggali berbagai sudut cerita yang selama ini mungkin dianggap biasa oleh masyarakat setempat, tetapi memiliki nilai tinggi bagi audiens yang belum mengenal Cireundeu.
Diskusi berlangsung hangat. Para peserta saling bertukar ide mengenai cara memperkenalkan kehidupan masyarakat adat melalui media sosial tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang dijaga secara turun-temurun. Tantangan menjaga keseimbangan antara promosi digital dan pelestarian budaya menjadi salah satu topik yang banyak dibahas.
Bagi masyarakat adat, media sosial bukan sekadar alat promosi. Platform digital kini menjadi ruang baru untuk memperkenalkan identitas budaya kepada khalayak yang lebih luas. Di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi sarana dokumentasi pengetahuan lokal yang selama ini hidup dalam tradisi lisan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak peserta mengaku memperoleh perspektif baru mengenai cara memanfaatkan media sosial secara lebih strategis.
"Kami sangat senang dengan adanya mahasiswa KKN Telkom University yang telah memberikan berbagai pelatihan, termasuk pelatihan storytelling ini. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk membantu memperkenalkan Cireundeu agar semakin dikenal masyarakat," ungkap salah seorang peserta.
Bagi Kampung Adat Cireundeu, pelatihan ini memiliki makna lebih dari sekadar peningkatan keterampilan digital. Kegiatan tersebut menjadi langkah kecil namun penting dalam memperkuat daya saing destinasi wisata berbasis budaya di tengah persaingan promosi yang semakin ketat.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat melalui program KKN Tematik menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Terkadang, perubahan besar justru berawal dari kemampuan sederhana untuk menceritakan identitas diri dengan cara yang menarik dan autentik.
Di masa depan, keberhasilan promosi Kampung Adat Cireundeu mungkin tidak hanya diukur dari jumlah unggahan atau tingkat keterlibatan di media sosial. Lebih dari itu, keberhasilannya terletak pada kemampuan menjaga agar nilai-nilai budaya tetap hidup, dikenal, dan dihargai oleh generasi yang semakin akrab dengan dunia digital.
Karena pada akhirnya, di balik setiap unggahan yang viral, selalu ada cerita yang membuat orang ingin datang, mengenal, dan memahami lebih dekat sebuah tempat. Dan Cireundeu memiliki banyak cerita yang layak didengar dunia.


0 comments