Bukan Penyakit Keturunan: Membongkar Mitos TBC Anak dan Ancaman 'Lingkaran Setan' Gizi Buruk | IVoox Indonesia

June 20, 2026

Bukan Penyakit Keturunan: Membongkar Mitos TBC Anak dan Ancaman 'Lingkaran Setan' Gizi Buruk

130626-TBC pada anak
ILUSTRASI - TBC pada anak dikenal bersifat ekstra-paru, artinya kuman bisa menjalar dan merusak organ tubuh lain mulai dari otak, kulit, tulang, jantung, usus, ginjal, kelenjar, hati, hingga mata. IVOOX.ID/AI

IVOOX.id – Di tengah masyarakat, penyakit Tuberkulosis (TBC) pada anak sering kali disalahpahami sebagai penyakit keturunan atau kutukan genetika. Faktanya, stigma ini keliru besar.

TBC murni merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan anak-anak justru menjadi korban rapuh dari penularan orang dewasa di sekitarnya.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jawa Barat Al Ihsan, Yoyoh Yusroh, menegaskan bahwa penularan TBC pada anak terjadi karena adanya kontak erat dengan pasien TBC aktif.

Pasalnya, satu pasien TBC dewasa yang aktif dapat menularkan bakteri tersebut kepada 10 hingga 15 orang di sekitarnya setiap tahun melalui droplet (percikan dahak) saat batuk atau bersin.

"Seandainya ada satu orang di keluarga yang menderita penyakit TBC, itu bisa kemungkinan semua yang di rumah ikut tertular. Apalagi kepada anak-anak, terutama anak-anak di bawah usia 5 tahun," ujar Yoyoh dicuplik dari akun Youtube RSUD Jawa Barat Al Ihsan, Minggu (7/6/2026).

Selain meluruskan mitos keturunan, dr. Yoyoh juga menyoroti kondisi medis krusial yang kerap mengintai anak-anak, yaitu hubungan timbal balik antara TBC dan gizi buruk. Ia mengibaratkan interaksi kedua kondisi ini seperti lingkaran setan yang saling mengunci.

"Kondisi gizi buruk ibaratnya seperti lingkaran setan. Gizi buruk dapat memicu anak lebih mudah terinfeksi TBC karena daya tahan tubuhnya ambruk. Sebaliknya, anak yang sudah terinfeksi TBC akan kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan penyerapan nutrisi, yang pada akhirnya menyebabkan kondisi gizi buruk," jelasnya.

Selain gizi buruk, anak-anak dengan kondisi medis khusus juga memiliki risiko berlipat ganda untuk tertular. Kelompok rentan ini meliputi anak penderita Diabetes Melitus (DM), penderita kanker (keganasan), anak yang mengonsumsi obat steroid jangka panjang (seperti untuk asma, radang sendi, atau gangguan ginjal), serta anak dengan HIV.

"Kalau ada anak yang menderita penyakit TBC harus di-screening HIV. Sebaliknya, kalau ada anak yang menderita HIV, harus di-screening juga penyakit TBC-nya," tambah Yoyoh.

Masuknya kuman TBC ke tubuh anak tidak serta-merta membuatnya langsung sakit. Yoyoh menjelaskan ada tiga tahapan paparan yang perlu dipahami orang tua agar tidak panik namun tetap waspada.

Pertama, Terpapar Sehat. Anak tinggal dengan pasien TBC, namun hasil pemeriksaan medis (gejala, rontgen dada, dan tes Mantoux) menunjukkan hasil negatif. Anak tidak perlu diobati, melainkan diberi terapi pencegahan (profilaksis) jika usianya di bawah 5 tahun, atau cukup diobservasi jika di atas 5 tahun.

Kedua, Infeksi Laten TBC. Kuman sudah masuk dan hasil tes Mantoux positif, tetapi anak tidak menunjukkan gejala karena bakteri "tertidur" dikunci oleh sistem imun. Anak pada fase ini tetap membutuhkan penanganan profilaksis agar kuman tidak bangun di masa depan.

Ketiga, Penderita TBC Aktif: Bakteri berhasil menjebol pertahanan tubuh. Anak menunjukkan gejala khas (batuk atau demam lebih dari 2 minggu, berat badan merosot dalam 2 bulan, dan anak lesu). Pada tahap ini, anak wajib segera mengonsumsi obat anti-tuberkulosis (OAT) secara rutin.

Orang tua juga harus waspada karena bakteri ini tidak hanya merusak paru-paru. TBC pada anak dikenal bersifat ekstra-paru, artinya kuman bisa menjalar dan merusak organ tubuh lain mulai dari otak, kulit, tulang, jantung, usus, ginjal, kelenjar, hati, hingga mata.

Sebagai langkah antisipasi, jika ditemukan ada anggota keluarga yang positif TBC, pasien tersebut wajib mengenakan masker secara ketat selama dua pekan pertama pengobatan karena di situlah masa penularan tertinggi sedang terjadi.

Yoyoh pun mewanti-wanti para orang tua untuk tidak mencoba mengobati sendiri anak yang menunjukkan gejala TBC dengan obat-obatan tanpa resep dokter.

"Kalau anak terlambat ditangani, nanti bisa masuk ke kategori TBC yang sangat berat. Kuncinya menghindari kontak erat, dan jika ada gejala, segera bawa ke dokter, puskesmas, atau rumah sakit terdekat," kata Yoyoh.

0 comments

    Leave a Reply