BRT Mebidang Resmi Beroperasi, Masuki Tahap Uji Coba

IVOOX.id – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution meresmikan operasional Bus Rapid Transit (BRT) Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang) melayani rute Medan-Binjai, dan Medan-Lubuk Pakam di Kabupaten Deli Serdang.
"Kehadiran layanan transportasi publik berbasis bus listrik ini menjadi langkah strategis," ujar Bobby, usai meresmikan operasional Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang melayani rute Medan-Binjai dan Medan-Lubuk Pakam, di Terminal Lubuk Pakam, Deli Serdang, Rabu (19/8/2026), dikutip dari Antara.
Gubernur mengatakan, BRT Mebidang ini tidak hanya ditentukan pembangunan infrastruktur, tetapi juga konsistensi pelayanan, ketepatan waktu, keselamatan, dan kemudahan akses masyarakat Sumut.
"Pembangunan transportasi publik merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan pilihan mobilitas yang layak," kata dia lagi.
Menurutnya, pertumbuhan kendaraan pribadi dewasa ini harus diimbangi dengan penyediaan angkutan umum yang nyaman dan terjangkau.
"Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin sulit pemerintah memberikan pelayanan. Karena itu, pemerintah harus menyiapkan transportasi umum," kata Bobby.
Gubernur juga meminta seluruh kepala daerah di kawasan Mebidang mengesampingkan ego sektoral dan secara bersama-sama mendukung integrasi sistem transportasi.
Bobby menegaskan, BRT Mebidang ini tidak boleh berhenti sebatas peluncuran armada bus, tetapi juga harus berkembang menjadi sistem transportasi yang saling terkoneksi dan terintegrasi.
Kementerian Perhubungan pada 2023 memilih Kota Medan untuk membangun proyek infrastruktur BRT Mebidang yang dibiayai mitra pembangunan, yakni World Bank dan AFD Prancis total sebesar Rp1,9 triliun.
BRT Mebidang ini memiliki lintasan sepanjang 21 kilometer terhubung 31 halte dengan 17 rute yang menjangkau kawasan Mebidang menggunakan armada 515 bus listrik didukung depo, halte, dan jalur khusus bus.
"Ini bukan launching (peluncuran) bus, tetapi transportasi yang terkoneksi dan terintegrasi sekaligus mendorong perubahan budaya mobilitas masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi umum," ujar Bobby.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumut Yuda Pratiwi Setiawan mengatakan, peluncuran BRT listrik di kawasan Mebidang merupakan komitmen Pemerintah Provinsi Sumut meningkatkan konektivitas dengan menyediakan transportasi publik modern, aman, terintegrasi, dan ramah lingkungan.
Pada tahap uji coba ini, kata dia lagi, dua unit bus listrik mulai dioperasikan untuk mengevaluasi kondisi teknis, waktu tempuh, dan memberikan edukasi kepada masyarakat Sumut.
"Selama masa uji coba, masyarakat bisa menggunakan layanan BRT listrik ini secara gratis," kata Yuda.
Setelah beroperasi penuh, katanya pula, tarif yang direncanakan sebesar Rp4.300/penumpang umum, dan Rp3.000 bagi kategori khusus, seperti pelajar, penyandang disabilitas, serta lanjut usia.
"Operasi penuh ditargetkan mulai 8 Desember 2026 dengan total 30 bus listrik terdiri atas 14 unit untuk Koridor 11 (Teladan-Terminal Lubukpakam), 13 unit Koridor 12 (Simpang Barat-Binjai), dan tiga unit armada cadangan," kata Yuda.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan proyek infrastruktur Bus Rapid Transit (BRT) Medan, Binjai, dan Deli Serdang (Mebidang) merupakan upaya pemerintah membangun sistem transportasi perkotaan.
"Kehadiran BRT Mebidang ini sebagai upaya pemerintah membangun sistem transportasi perkotaan yang lebih modern dan terintegrasi," ujar Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI Muiz Thohiro usai meresmikan operasional BRT Mebidang di Terminal Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (19/8/2026), dikutip dari Antara.
Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, lanjut Muiz, pembangunan kawasan perkotaan menjadi salah satu prioritas nasional.
Ia menjelaskan, terdapat sekitar 20 kota atau kawasan perkotaan prioritas di wilayah Indonesia, termasuk kawasan Kota Medan dan sekitarnya.
"Berdasarkan data TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan di Kota Medan mencapai sekitar 54,2 persen. Artinya perjalanan normalnya ditempuh selama 10 menit, tetapi memerlukan waktu lebih lama akibat kepadatan lalu lintas," jelas dia.
Oleh karena itu, tutur Muiz, pembangunan transportasi publik dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat akan kendaraan pribadi sekaligus menekan konsumsi energi dan emisi karbon.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Perhubungan meluncurkan program BRT di kawasan Medan dan Bandung Raya sebagai proyek percontohan yang didukung Bank Dunia.
Kementerian Perhubungan pada 2023 memilih Kota Medan untuk membangun proyek infrastruktur BRT Mebidang yang dibiayai mitra pembangunan, yakni World Bank dan AFD Prancis total sebesar Rp1,9 triliun.
"Pembangunan bukan semata proses fisik. Ada investasi bagi kualitas hidup masyarakat, produktivitas ekonomi, serta masa depan yang lebih hijau," kata Muiz.


0 comments