BRIN Sebut Temuan Arkeologi Situs Bongal Berpotensi Ubah Peta Sejarah Masuknya Islam di Nusantara | IVoox Indonesia

August 13, 2026

BRIN Sebut Temuan Arkeologi Situs Bongal Berpotensi Ubah Peta Sejarah Masuknya Islam di Nusantara

koleksi barang-barang peninggalan situs Bongal
Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kanan) bersama Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha (kedua kiri) melihat koleksi barang-barang peninggalan situs Bongal pada Pameran Misykat di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (17/4/2025). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.

IVOOX.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa serangkaian temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi besar mengubah peta sejarah dan narasi awal mula masuknya peradaban Islam di Nusantara.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Irfan Mahmud dalam kegiatan Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38 di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026, menyoroti bahwa ekskavasi yang dilakukan oleh tim peneliti telah membuahkan hasil signifikan yang menggeser linimasa sejarah yang selama ini dipahami secara umum.

"Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8, artinya awal ketika kenabian. (Temuan ini) membuka ruang yang lebih lebar tentang pembuktian beberapa hipotesis-hipotesis berkaitan dengan arkeologi Islam akar rumput," kata Irfan, dikutip dari Antara.

Irfan menuturkan temuan arkeologis pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Masehi tersebut memberikan jarak waktu sekitar tujuh abad jika dikomparasikan dengan narasi sejarah yang kerap menyebutkan bahwa Islam baru mengakar kuat sebagai sebuah entitas politik atau kerajaan pada kisaran abad ke-13 dan ke-15 Masehi.

Rentang waktu yang membentang sangat luas tersebut, menurut dia, menjadi ruang kosong sejarah yang amat esensial untuk segera digali oleh para arkeolog guna memahami pola hidup masyarakat penyebar Islam terdahulu.

"Nah, ini tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi-lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru," ujar dia.

Irfan menilai penemuan ini akan membuka ruang yang lebih lebar tentang arkeologi Islam akar rumput. Hal ini mendorong para sejarawan dan periset untuk mulai melihat sejarah dari kacamata masyarakat bawah pada masa lampau, tidak hanya berfokus pada kehidupan kaum bangsawan di pusat-pusat istana.

Senada, Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN Herry Yogaswara menyatakan bahwa fakta dari Situs Bongal memang telah melahirkan dialektika baru di kalangan ilmuwan dan akademisi.

Ia tidak menampik bahwa tafsir ulang atas peta sejarah ini memicu perdebatan akademis, namun hal itu dinilainya sebagai sebuah dinamika sains yang sangat konstruktif dan menyehatkan.

"Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evident (bukti) ya," kata Herry Yogaswara, dikutip dari Antara.

Guna mematangkan pengumpulan data, merawat artefak, serta mengonfirmasi kepingan sejarah peradaban Islam awal yang hilang tersebut, Herry menyebutkan BRIN berencana memfasilitasi penelitian berskala masif di kawasan pesisir barat Sumatera.

"Karena kami juga memikirkan untuk membuat suatu stasiun lapangan dengan riset yang cukup panjang ya di wilayah Bongal atau Pantai Barat Sumatera lah. Secara lebih besar intinya ya untuk memperkuat dari ilmu arkeologi itu sendiri khususnya yang berkaitan dengan peradaban Islam," ucap Herry Yogaswara.

0 comments

    Leave a Reply