BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Rebound IHSG Bergantung pada Stabilitas Rupiah dan Arus Asing | IVoox Indonesia

BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Rebound IHSG Bergantung pada Stabilitas Rupiah dan Arus Asing

Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI)
Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta Selatan Rabu (1/11/2023). IVOOX/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen memberikan sentimen positif bagi pasar domestik. Namun, penguatan pasar masih perlu dicermati karena arus dana asing belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan yang signifikan.

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan IHSG pada perdagangan terakhir rebound 1,56 persen ke level 6.375. Pada saat yang sama, Rupiah menguat ke kisaran Rp17.800 per dolar AS.

Meski demikian, investor masih perlu memperhatikan perkembangan aliran dana asing pascakeputusan BI. Pada perdagangan terakhir, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp468 miliar di pasar reguler, terutama pada saham BBRI, BMRI, dan TLKM. Secara year-to-date, total outflow asing telah mencapai sekitar Rp102,9 triliun.

Di tengah tekanan tersebut, aksi beli asing secara selektif masih terlihat pada sejumlah saham, antara lain MDKA dan TINS.

“Pasca RDG, fokus bergeser dari keputusan BI ke efektivitas policy mix dalam menjaga Rupiah sekaligus likuiditas. Dengan global yields kembali naik, keberlanjutan rebound IHSG akan sangat bergantung pada stabilisasi Rupiah dan yang terpenting kembalinya foreign demand pada liquid large caps,” ujar Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Kamis (24/9/2026).

Faktor eksternal turut menjadi perhatian. Pasar saham Amerika Serikat kembali melemah, dengan S&P 500 turun 0,8 persen, Nasdaq 1,1 persen, dan Dow Jones 0,7 persen. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun kembali menembus 5,1 persen. Harga minyak juga naik hampir 4 persen di tengah ketidakpastian terkait Iran.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai peluang penguatan pasar domestik masih terbuka, meskipun kondisi global akan menjadi faktor penting dalam jangka pendek.

Menurut Jessica, pergerakan suku bunga global dapat memengaruhi perekonomian Indonesia melalui dampaknya terhadap nilai tukar Rupiah. Ia menilai penggunaan policy mix oleh BI menunjukkan upaya menjaga stabilitas tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Efektivitas kebijakan tersebut, menurutnya, terlihat dari kemampuan BI menjaga Rupiah di sekitar Rp17.800 per dolar AS ketika indeks dolar AS (DXY) telah mencapai level 101.

“Ruang untuk penguatan masih terbuka, terutama di pasar SBN, dengan foreign participation yang relatif stabil di sekitar 13% dari total outstanding. Kondisi ini juga didukung kebijakan fiskal yang terjaga dan perkembangan di Kementerian Keuangan yang membantu mengembalikan investor confidence,” ujar Jessica.

Namun, jika Rupiah kembali melewati Rp18.000 per dolar AS, ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin masih terbuka.

Jessica juga melihat instrumen valas dan kebijakan likuiditas semakin memperkuat stance BI yang pro-growth. Ke depan, BI diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga sembari mencermati kebutuhan insentif tambahan untuk menarik foreign inflow dan menjaga stabilitas Rupiah.

“Penurunan imbal hasil SRBI yang kini sudah berada di bawah 7% di seluruh tenor menunjukkan adanya perubahan kondisi likuiditas. Dalam kondisi tersebut, kami melihat SBN dengan tenor medium to long term masih atraktif,” kata Jessica.

Gubernur BI Sebut BI-Rate 5,75 Persen Cukup untuk Jaga Stabilitas

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memandang tingkat BI-Rate yang saat ini tetap pada level 5,75 persen masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi (higher for longer).

“Kita tentunya melihat, kalau saat ini, kita masih menganggapnya cukup. Karena stabilitas kita bukan hanya dengan pre-emptive daripada BI-Rate itu, tapi juga penguatan di kebijakan terkait dengan insentif biaya hedging. Di satu sisi, kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi karena momentumnya lagi ada,” kata Destry pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9/2026), dikutip dari Antara.

Destry mengatakan, ekonomi domestik saat ini terus bergerak ke arah yang lebih baik sehingga bank sentral Indonesia juga turut mendukung arah tersebut melalui kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung lainnya seperti pendalaman pasar keuangan, kebijakan UMKM, dan kebijakan regional.

“Ketidakpastian global di satu sisi. Di sisi lain untuk domestik, selain stabilitas yang tentu menjadi fokus kami saat ini, tapi juga kita harus bisa membuka ruang untuk ekonomi itu masih bisa bergerak lebih maju lagi,” kata dia.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman menambahkan bahwa bank sentral memilih untuk tidak menaikkan BI-Rate karena dapat berdampak pada kenaikan harga-harga di domestik.

Secara keseluruhan, meski terjadi kenaikan harga minyak global, ia menilai fundamental ekonomi domestik saat ini masih cukup baik karena ditopang oleh permintaan dan konsumsi domestik serta investasi.

BI sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen.

“Dengan kondisi itu semua, kita ketahui kemarin PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal I sebesar 5,61 persen, kuartal kedua 5,29 persen, dan kami masih memperkirakan 2026 ini masih pada kisaran 4,9 persen sampai 5,7 persen, itu yang kami lihat. Jadi mudah-mudahan PDB-nya masih terus terjaga,” kata Aida.

Ia menambahkan bahwa inflasi domestik juga masih terjaga dalam sasaran target BI pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen atau rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.

“Artinya, kita masih punya ruang yang cukup baik dalam menjaga dampak dari global ke inflasi dan kemudian masih dalam target inflasi kita. Proyeksi yang kami lihat ini semuanya masih di bawah 3,5 persen, dan bahkan masih sekitar-sekitar 3 persenan,” kata Aida.

Dari sisi eksternal, meski defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 melebar ke 3,3 persen dari PDB, Aida mengatakan perkembangan terkini neraca perdagangan Indonesia sudah mulai positif kembali dan diharapkan dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 juga tetap terjaga, yakni sebesar 146,5 miliar dolar AS.

Aida menambahkan bahwa yang mempengaruhi pelemahan nilai tukar yaitu meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait dengan perkembangan harga minyak global dan ekspektasi suku bunga global.

Dengan berbagai perhitungan yang dipertimbangkan, bank sentral Indonesia memilih untuk memanfaatkan kebijakan non-suku bunga yaitu melalui peningkatan insentif biaya hedging untuk menarik arus masuk modal asing dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Instrumen swap dan DNDF, kemudian juga ada Local Currency Transaction (LCT), itu kita kita lakukan kembali dan kita perkuat dengan angka-angka yang semakin meningkat,” kata Aida.

Untuk diketahui, BI meningkatkan insentif instrumen swap beli lindung nilai konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment (FDI) melalui pengurangan premi dari semula 12,5 persen untuk semua tenor menjadi sebesar 15 persen untuk tenor 3 bulan, 20 persen untuk tenor 6 bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.

BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan FDI melalui pengurangan premi dari semula 15 persen menjadi sebesar 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.

Selain itu, BI melanjutkan pemberian insentif bagi transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk diversifikasi transaksi valas berupa penambahan premi swap beli lindung nilai (swap jual lindung nilai kepada BI) sebesar 10 persen, serta pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen.

0 comments

    Leave a Reply