BI Dinilai Masih Punya Ruang Naikkan Suku Bunga demi Jaga Rupiah | IVoox Indonesia

May 13, 2026

BI Dinilai Masih Punya Ruang Naikkan Suku Bunga demi Jaga Rupiah

Foto Gedung Permata Bank - WTC (2)
BI dinilai masih punya ruang naikkan suku bunga 5 persen demi jaga rupiah. IVOOX.ID/doc Permata Bank

IVOOX.id – Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset milik PT Bank Permata Tbk menilai, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada semester I-2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan. Langkah tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya gejolak global, arus modal keluar, hingga menyusutnya cadangan devisa Indonesia.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan tekanan terhadap rupiah semakin besar akibat ketidakpastian ekonomi global yang berkepanjangan. Kondisi tersebut, menurutnya, mendorong perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. “Kalau kita lihat, kita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 itu, kemungkinan ruang kenaikan BI Rate itu ada,” ujar Faisal dalam acara Media Briefing, Selasa (12/5/2026).

Faisal memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen pada semester pertama tahun ini apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Menurut dia, secara historis Bank Indonesia cenderung merespons pelemahan rupiah yang signifikan dengan kenaikan suku bunga.

Ia menjelaskan, hingga 11 Mei 2026, nilai tukar rupiah telah melemah sekitar 4,5 persen secara year-to-date dan sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. “Karena biasanya kalau kita lihat secara historikal, biasanya BI itu kalau sudah rupiah melemah 3 persen ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan,” katanya.

Selain tekanan pada nilai tukar, Faisal menyoroti kondisi neraca pembayaran Indonesia yang dinilai semakin rentan. Hal itu terlihat dari menyusutnya surplus neraca perdagangan serta meningkatnya potensi defisit transaksi berjalan atau current account deficit.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung terhadap posisi cadangan devisa nasional apabila tidak diimbangi aliran modal masuk yang memadai. “Current account yang defisit itu harus dibayar dengan financial account yang surplus. Kalau dua-duanya defisit, maka cadangan devisa akan menurun. Dan itu yang terjadi saat ini,” ujar Faisal.

PIER mencatat cadangan devisa Indonesia telah turun sekitar 10,27 miliar dolar AS sejak awal tahun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026. Penurunan tersebut mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian nasional.

Di sisi lain, tekanan inflasi juga dinilai tetap perlu diantisipasi. Meski inflasi domestik saat ini masih berada di bawah level 3 persen, risiko kenaikan harga dinilai tetap tinggi akibat lonjakan harga energi global dan potensi imported inflation jika pelemahan rupiah berlanjut.

0 comments

    Leave a Reply