BI Catat Volume LCT Capai 22,61 Miliar Dolar AS hingga April 2026

IVOOX.id – Bank Indonesia (BI) mencatat volume penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan (local currency transaction/LCT) secara tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal tahun hingga April 2026 mencapai 22,61 miliar dolar AS.
Jumlah ini meningkat signifikan apabila dibandingkan dengan periode Januari hingga April 2025 yang sebesar 7,33 miliar dolar AS, menurut data BI. Adapun sepanjang 2025, volume LCT tercatat sebesar 25,72 miliar dolar AS.
“Volume ini naik tajam. Ini mendorong diversifikasi mata uang, bahwa tidak harus semua itu lewat dolar AS,” kata Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama dalam diskusi bersama media di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (225/2026), dikutip dari Antara.
Berdasarkan catatan BI, negara mitra utama LCT antara lain China, Jepang dan Malaysia dengan distribusi masing-masing sebesar 89 persen, 6 persen dan 3 persen. BI juga mencatat jumlah pelaku LCT terus meningkat. Sejak awal tahun hingga April 2026, rata-rata jumlah pelaku LCT per bulan mencapai 5.265 pelaku.
Ruth menjelaskan bahwa penggunaan mata uang lokal secara langsung dalam transaksi bilateral lebih efisien dibandingkan harus melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
Transaksi lintas negara umumnya masih menggunakan skema cross rate, misalnya dari rupiah ke dolar AS terlebih dahulu sebelum dikonversi ke mata uang negara tujuan, sehingga menimbulkan biaya tambahan akibat dua kali konversi kurs.
Oleh sebab itu, BI memandang LCT dapat menjadi solusi untuk menekan biaya transaksi sekaligus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam aktivitas ekonomi dan keuangan antarnegara mitra.
Selain diversifikasi eksposur mata uang, Ruth menambahkan bahwa pengembangan LCT juga diarahkan untuk memperdalam pasar mata uang lokal di kawasan regional serta memperluas partisipasi pelaku pasar.
“Bukan kita menghindari atau tidak mau dolar AS, kita tahu global itu masih menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya bisa langsung dengan domestik itu banyak, kenapa kita harus pakai dolar dulu,” jelas dia.
Mengenai mekanismenya, Ruth menjelaskan bahwa implementasi LCT dilakukan melalui bank yang ditunjuk sebagai Appointed Cross Currency Dealers (ACCD), yakni bank yang disepakati oleh masing-masing bank sentral negara mitra untuk memfasilitasi transaksi menggunakan mata uang lokal.
Melalui mekanisme tersebut, eksportir dan importir dapat melakukan transaksi langsung menggunakan mata uang domestik tanpa melalui dolar AS.
Ruth mengatakan BI terus memperluas kerja sama LCT dengan berbagai negara mitra. Saat ini, Indonesia telah bekerja sama dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab.
Dalam waktu dekat, implementasi LCT juga diarahkan untuk diperluas dengan Arab Saudi, Singapura dan India.
BI mencatat bahwa permintaan dolar AS biasanya mengalami peningkatan pada April hingga Juni, salah satunya dipengaruhi kebutuhan pembayaran terkait ibadah haji dan umrah.
Oleh sebab itu, kerja sama LCT dengan Arab Saudi diharapkan dapat mendorong penggunaan transaksi langsung antara rupiah dan riyal Saudi (SAR), sehingga ketergantungan terhadap dolar AS dapat berkurang sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kita tahu ada permintaan SAR yang besar, itu yang sedang kita lakukan. Bagaimana caranya dengan LCT ini, kalau bisa tanpa dolar, kita inginnya punya LCT langsung dengan Saudi Arabia. Mungkin itu beberapa hal yang sedang kita usahakan,” kata Ruth.


0 comments