BGN Targetkan Nol Kasus Keracunan Program Makan Bergizi Gratis pada 2026

IVOOX.id – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang menegaskan bahwa target nol kasus atau zero kasus keracunan menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang tahun 2026. Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan berbagai perbaikan dan penguatan sistem demi meminimalkan seluruh potensi risiko dalam program tersebut.
“Kalau menggaransi itu Allah yang menjamin ya. Tapi kami akan berusaha bekerja keras untuk meminimalisir,” ujar Nanik dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Nanik menyampaikan optimisme bahwa target nol keracunan dapat dicapai paling lambat Mei 2026. Keyakinan tersebut didukung oleh capaian penerima manfaat MBG yang jauh melampaui target awal. Ia mengungkapkan, pada awalnya pemerintah menargetkan enam juta penerima pada 2025, namun realisasi di lapangan menunjukkan angka yang jauh lebih besar.
“Awalnya target 2025 itu 6 juta, ternyata per hari ini sudah mencapai 55,1 juta,” ujar Nanik.
Meski capaian tersebut dinilai positif, Presiden disebut memberikan penekanan agar pelaksanaan program tidak dilakukan secara terburu-buru. Menurut Nanik, Presiden mengingatkan pentingnya menjaga kualitas sumber daya manusia dan pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) agar sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.
“Pak Presiden menyampaikan ‘jangan ngoyo’, supaya kualitas SDM dan pembangunan SPPG benar-benar sesuai juknis, sehingga bisa menuju nol kecelakaan,” katanya.
Lebih lanjut, Nanik menjelaskan bahwa tren kasus keracunan dalam program MBG menunjukkan penurunan signifikan sejak September 2025. Penurunan tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari penerapan standar keamanan pangan yang semakin ketat di seluruh rantai penyediaan makanan bergizi. Salah satu langkah utama adalah kewajiban penerapan sistem SLHS untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan yang disajikan.
Ia mengungkapkan, pada fase awal pelaksanaan program sempat ditemukan bakteri Escherichia coli atau E. coli yang berasal dari udara dan sumber air. Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan kebijakan baru yang mewajibkan penggunaan air galon bermerek yang terjamin kualitasnya dan bebas dari bakteri berbahaya.
“Air sekarang harus menggunakan air galon merek yang terjamin tidak ada bakterinya, bebas E. coli,” ujarnya.
Selain penguatan standar bahan dan proses, Badan Gizi Nasional juga akan segera menerbitkan petunjuk teknis yang lebih tegas dalam waktu dekat. Juknis tersebut akan mengatur standar operasional dapur penyedia MBG secara lebih rinci dan ketat, termasuk mekanisme pengawasan dan penegakan disiplin.
Nanik menegaskan bahwa dapur penyedia MBG yang tidak memenuhi standar akan dikenai sanksi bertahap. Sanksi tersebut dimulai dari peringatan pertama, kedua, hingga ketiga, sebelum akhirnya dilakukan penutupan operasional.
“Ketika peringatan ketiga, kami akan tutup. Itu sikap keras kami,” ujarnya.


0 comments