BGN Tanggapi Usulan Bulog Soal Beras Premium, Tegaskan Program MBG Tetap Prioritaskan Pangan Lokal | IVoox Indonesia

August 3, 2026

BGN Tanggapi Usulan Bulog Soal Beras Premium, Tegaskan Program MBG Tetap Prioritaskan Pangan Lokal

Bulog Bali cek ketersediaan stok beras
Bulog Bali cek ketersediaan stok beras jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Denpasar, Minggu (14/6/2026). (ANTARA/ho-Bulog Bali)

IVOOX.id – Badan Gizi Nasional (BGN) membuka peluang kerja sama dengan Perum Bulog dalam penyediaan beras premium untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, BGN menegaskan kebijakan tersebut tidak akan mengubah prinsip utama program yang tetap mengutamakan penggunaan bahan pangan lokal sebagai sumber pasokan utama.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan usulan yang disampaikan Bulog dipandang sebagai langkah positif untuk memperkuat ketahanan pasokan pangan. Namun, peran Bulog nantinya hanya akan difungsikan sebagai penyangga apabila terjadi kekurangan stok atau gejolak harga di daerah yang menjadi lokasi operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Sudaryono, Program MBG dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah melalui pemberdayaan petani, pedagang lokal, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Usulan dari Bulog kami pandang positif. Namun yang ingin kami tegaskan, Program MBG tetap memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari daerah setempat. Kami ingin petani lokal, pedagang lokal, dan UMKM ikut merasakan manfaat dari perputaran ekonomi yang dihasilkan program ini," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor Badan Gizi Nasional, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, usulan Bulog yang tengah dibahas bukan berkaitan dengan penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), melainkan penyediaan beras premium yang dapat dimanfaatkan sebagai cadangan ketika suatu daerah mengalami keterbatasan pasokan. Dengan skema tersebut, Bulog diharapkan mampu menjaga kesinambungan distribusi pangan tanpa menggeser peran pemasok lokal.

Mas Dar menilai Bulog memiliki posisi strategis sebagai lembaga negara yang bertugas menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan stok pangan nasional. Karena itu, keterlibatan Bulog dipandang penting untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan yang dapat memengaruhi pelaksanaan Program MBG.

"Bulog memiliki fungsi sebagai stabilisator harga dan penjaga stok pangan. Karena itu kami ingin menempatkan Bulog sebagai buffer. Ketika pasokan beras lokal belum mencukupi atau ada potensi kenaikan harga akibat meningkatnya kebutuhan, Bulog dapat menjadi penyangga sehingga masyarakat tetap memperoleh harga yang wajar dan stok pangan tetap tersedia," kata Sudaryono.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa strategi tersebut merupakan bagian dari upaya BGN menjaga keseimbangan antara keberhasilan program pemenuhan gizi dan stabilitas ekonomi di daerah. Dengan mengutamakan pembelian bahan pangan dari wilayah sekitar SPPG, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat melalui meningkatnya aktivitas perdagangan dan produksi pangan.

Di sisi lain, BGN juga ingin memastikan kehadiran dapur MBG tidak menimbulkan tekanan terhadap ketersediaan bahan pangan di suatu wilayah. Oleh sebab itu, penggunaan pasokan lokal tetap menjadi prioritas utama, sedangkan Bulog hanya akan berperan ketika kondisi membutuhkan intervensi untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan.

"Jangan sampai keberadaan dapur MBG justru memicu gejolak harga di suatu wilayah karena menyerap pasokan yang terbatas. Karena itu kami memprioritaskan bahan pangan lokal terlebih dahulu. Jika memang terjadi kekurangan, baru Bulog hadir sebagai penyangga agar harga tetap stabil dan pasokan tetap aman," katanya.

0 comments

    Leave a Reply