BGN Bantah Isu Mitra Makan Bergizi Gratis Raup Untung Rp1,8 Miliar dan Tuduhan Mark-Up Bahan Baku | IVoox Indonesia

23 Februari 2026

BGN Bantah Isu Mitra Makan Bergizi Gratis Raup Untung Rp1,8 Miliar dan Tuduhan Mark-Up Bahan Baku

waki kepala bgn Sony Sanjaya
Direktur Deputi Dialur Wilayah II Badan Gizi Nasional (BGN), Brigjen Pol Sony Sanjaya., yang dilantik Presiden Prabowo menjadi Wakil Kepala BGN. ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri

IVOOX.id – Beredarnya video yang menampilkan Ketua BEM UGM dan menyebut Mitra SPPG meraup keuntungan bersih hingga Rp1,8 miliar per tahun memicu polemik di ruang publik. Narasi tersebut bahkan dikaitkan dengan dugaan mark-up bahan baku serta isu kepemilikan dapur oleh pihak yang diasosiasikan dengan partai politik tertentu, sehingga muncul kesan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disiapkan untuk membiayai kepentingan politik.

Menanggapi hal itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional, Sony Sonjaya, menegaskan bahwa klaim tersebut merupakan disinformasi yang tidak sesuai dengan fakta teknis maupun skema pembiayaan program.

"Mitra mendapatkan 'untung bersih' Rp 1,8 miliar per tahun adalah asumsi fiktif yang tidak berdasar pada realitas bisnis dan investasi," kata Sony dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Minggu (22/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa angka Rp1,8 miliar merupakan estimasi pendapatan kotor maksimal, dihitung dari Rp6 juta per hari dikalikan 313 hari operasional dalam setahun atau sekitar Rp1,878 juta. Angka tersebut belum dikurangi biaya investasi awal, operasional, pemeliharaan, depresiasi aset, hingga risiko usaha lainnya.

Untuk menjadi Mitra SPPG, pihak yang berminat wajib membangun fasilitas sesuai Juknis 401.1 Tahun 2026 dengan standar teknis ketat. Estimasi investasi awal yang harus dikeluarkan berkisar antara Rp2,5 miliar hingga Rp6 miliar, tergantung lokasi dan harga lahan. Investasi ini mencakup pengadaan lahan 500–800 meter persegi, pembangunan dapur industri, instalasi listrik tiga fase, sistem filtrasi air standar air minum, IPAL, lantai antibakteri, peralatan masak industri, CCTV, hingga fasilitas sertifikasi SLHS dan Halal.

Sony menegaskan, dengan investasi sebesar itu dan pendapatan kotor sekitar Rp1,8 miliar per tahun, titik impas secara rasional baru tercapai dalam 2–2,5 tahun. Pada dua tahun awal, mitra umumnya masih dalam fase pengembalian modal dan depresiasi aset.

BGN juga membantah tudingan bahwa mitra memperoleh keuntungan dengan “menyunat” porsi makanan. Skema program memisahkan insentif fasilitas sebesar Rp6 juta per hari dengan anggaran bahan baku makanan. Dana bahan baku menggunakan prinsip at-cost melalui Virtual Account (VA) operasional dan tidak masuk ke rekening pribadi mitra.

“Tidak terdapat margin makanan dalam program MBG. Apabila terdapat selisih harga bahan, dana tersebut tidak dapat ditarik menjadi keuntungan Mitra dan tetap tercatat dalam sistem keuangan sesuai mekanisme yang berlaku,” katanya.

Terkait isu relasi politik, BGN menegaskan seleksi mitra dilakukan terbuka dan berbasis kapasitas investasi serta kepatuhan terhadap standar higienitas dan keamanan pangan. “Tidak ada jaminan kekebalan bagi pihak mana pun. Apabila melanggar SOP keamanan pangan, SPPG tetap dapat di-suspend atau diputus kontraknya,” ujar Sony.

0 comments

    Leave a Reply