Begok Oner Raih UOB Painting of the Year 2026 Lewat Urban Realism Layers | IVoox Indonesia

Begok Oner Raih UOB Painting of the Year 2026 Lewat Urban Realism Layers

Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif Bekraf Dadam Mahdar
Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI Dadam Mahdar bersamaHead of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia Luke Ariefiandi, Ketua Dewan Juri 16th UOB Painting of the Year Melati Suryodarmo dalam konferensi pers pada Kamis (24/9/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Seniman Begok Oner meraih penghargaan tertinggi kategori Established Artist dalam ajang 16th UOB Painting of the Year (POY) Indonesia melalui karyanya berjudul “Urban Realism Layers”.

Pencapaian tersebut melanjutkan perjalanan Oner dalam kompetisi seni yang digelar UOB Indonesia. Sebelumnya, seniman berusia 28 tahun itu meraih penghargaan Most Promising Artist of the Year pada 2023 dalam kategori Emerging Artist.

Karya “Urban Realism Layers” memadukan gambar, kata-kata, dan berbagai jejak yang menyerupai permukaan ruang publik. Oner menggunakan semen plester dan tekstur berlapis untuk menciptakan kesan relief, sekaligus menghadirkan sejumlah elemen yang merefleksikan kehidupan masyarakat masa kini.

Konsep tersebut kemudian dihubungkan Oner dengan lukisan gua prasejarah, termasuk gua Lascaux di Prancis dan situs seni cadas kuno di Sulawesi Selatan. Melalui karya tersebut, ia mengeksplorasi dorongan manusia untuk berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan membangun hubungan yang telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu.

“Ketika melihat jejak yang ditinggalkan manusia ribuan tahun lalu, saya melihat sesuatu yang sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Kita terus mencari cara untuk mengungkapkan apa yang kita alami, apa yang kita yakini, dan siapa diri kita. Melalui karya ini, saya ingin mengingatkan bahwa meskipun cara kita berkomunikasi terus berubah, kebutuhan untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, dan terhubung dengan orang lain tetap menjadi bagian dari diri manusia,” ujar Begok Oner kepada awak media pada Kamis (24/9/2026).

Karya tersebut dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Melati Suryodarmo sebagai Chief Judge sekaligus seniman pertunjukan, Dr Agung Hujatnika selaku kurator seni independen dan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, serta Heri Pemad, pendiri Art Jog, Artina, dan Art Bali.

Melati menilai Oner menunjukkan perkembangan artistik melalui gagasan yang berasal dari dunia visualnya sendiri dan kemudian dikaitkan dengan pengalaman manusia secara lebih luas.

“Karya Oner menunjukkan kematangan dalam mengembangkan gagasan yang berangkat dari dunia visualnya sendiri menjadi sesuatu yang mampu berbicara tentang pengalaman manusia yang lebih luas. Ia mengambil sesuatu yang akrab dan mengajak kita melihatnya dari sudut pandang berbeda, menghubungkan ekspresi kontemporer dengan sejarah yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Oner telah membangun karakter artistik yang khas, yang memungkinkan masa lalu dan masa kini hadir berdampingan secara halus namun kuat,” kata Melati.

Sebagai pemenang kategori Established Artist, Oner memperoleh hadiah uang tunai Rp250 juta. Karyanya juga akan berkompetisi dengan karya pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam dalam ajang UOB Southeast Asian POY yang diumumkan di Singapura pada 28 Oktober 2026. Ia turut mendapat kesempatan mengikuti program residensi seni di luar negeri yang disponsori UOB.

Sementara itu, kategori Emerging Artist dimenangkan Alif Lamra, seniman berusia 29 tahun asal Yogyakarta, melalui karya “Liminal Fragment 03”. Karya monokromatik tersebut mengeksplorasi fragmen laut, langit, cahaya, dan bayangan serta cara manusia memahami ruang melalui persepsi.

President Director UOB Indonesia Hendra Gunawan mengatakan ajang tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang UOB dalam mendukung perkembangan seni dan talenta kreatif Indonesia.

“Seni memiliki kemampuan yang unik untuk menghubungkan manusia lintas generasi, budaya, dan perspektif. Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang kami terhadap seni, kami senang dapat kembali merayakan 16th UOB Painting of the Year sekaligus menyediakan wadah bagi para seniman untuk mengembangkan praktik berkesenian dan menjangkau audiens yang lebih luas. Kami mengucapkan selamat kepada Begok Oner, Alif Lamra, dan seluruh pemenang tahun ini. Karya-karya mereka mencerminkan kekayaan dan keberagaman talenta seni Indonesia, serta peran penting seni dalam membentuk cara kita melihat dan memahami dunia.”

Sebanyak 48 karya finalis 16th UOB POY Indonesia, termasuk delapan karya pemenang, dipamerkan di The Melting Pot, lantai dasar ASHTA District 8, Jakarta. Pameran terbuka untuk umum setiap hari pada 24 September hingga 10 Oktober 2026, pukul 10.00-22.00 WIB.

UOB Dorong Seniman Indonesia Perluas Jejaring ke Panggung Seni Global

UOB Indonesia mendorong penguatan konektivitas seniman Indonesia agar dapat memperluas eksposur dan jejaring hingga ke tingkat regional maupun global. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem seni rupa yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, komunitas, institusi seni, akademisi, media, hingga lembaga keuangan.

Pembahasan mengenai penguatan ekosistem tersebut mengemuka dalam Art Talks bertajuk “Industri Seni Indonesia Dalam Peta Seni Dunia” yang digelar UOB Indonesia di Flix Cinema Ashta, Jakarta, Kamis, 24 September 2026. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan tur pameran karya peserta 16th UOB Painting of the Year (UOB POY).

Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI Dadam Mahdar mengatakan pemerintah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk membangun ekosistem seni rupa yang berkelanjutan. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai hexahelix.

“Hexahelix itu kami singkat dengan A-B-G-C-M-L. A itu akademisi, B bisnis, G government atau pemerintah, C komunitas, M media, dan yang terakhir lembaga keuangan,” ujar Dadam dalam konferensi pers pada Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, kolaborasi diperlukan karena industri kreatif memiliki rantai yang saling berkaitan, mulai dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi hingga konservasi. Dukungan pemerintah dapat diberikan melalui inkubasi dan pelatihan, sementara sektor swasta dapat membantu mempertemukan karya dengan pasar, buyer maupun kolektor.

“Pemerintah tidak sendiri. Kami yakin dengan bantuan teman-teman UOB, jadi ketemulah antara seniman dan buyer,” katanya.

Dadam menilai perjalanan seniman menuju panggung regional dan global tidak hanya ditentukan oleh kualitas karya. Eksposur, kurator, kemampuan membangun cerita atau storytelling, serta jejaring dengan kolektor juga menjadi bagian penting dalam pengembangan karier.

“Senimannya karyanya bagus, tetapi membutuhkan juga eksposur. Ketika karya itu ada maknanya, ada cerita, storytelling-nya, harus kita hubungkan dengan para kurator,” katanya.

Pemerintah juga mendorong pendataan pelaku ekonomi kreatif melalui Ekraf Hub. Platform tersebut diharapkan dapat menjadi etalase bagi seniman untuk menampilkan profil, rekam jejak, pengalaman pameran hingga program yang pernah diikuti.

“Ini menjadi etalase juga karyanya. Bahkan ketika dibutuhkan oleh kolektor atau buyer, itu bisa langsung di situ bertransaksi,” ujar Dadam.

Sementara itu, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia Luke Ariefiandi mengatakan dukungan terhadap seni merupakan bagian dari komitmen UOB untuk memberikan dampak kepada komunitas di negara tempat perusahaan beroperasi.

Salah satu program tersebut diwujudkan melalui UOB Painting of the Year yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Di Indonesia, kompetisi tersebut tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-16.

“Kalau kita bisa mendapatkan sebagai pemenang dari Indonesia, tentunya itu selain mengharumkan nama senimannya sendiri, tapi juga mengharumkan nama Indonesia sendiri,” katanya.

Luke menegaskan UOB POY tidak sekadar diposisikan sebagai kompetisi, melainkan platform yang mendukung perjalanan seniman setelah ajang berakhir.

“Kita selalu menyebutnya sebagai beyond competition. Karena kita melihatnya sebagai sebuah platform,” ujarnya.

Melalui alumni network, UOB memberikan peluang bagi para seniman untuk membangun koneksi, memperoleh pengakuan, meningkatkan kapasitas, serta mendapatkan eksposur regional dan global.

“Recognition ini penting sekali buat seniman, terutama dalam membangun karier mereka,” kata Luke.

Dukungan juga diberikan melalui art talk, pembekalan, pameran, hingga kesempatan mengikuti kegiatan di luar negeri. Menurut Luke, seniman membutuhkan kemampuan pendukung seperti literasi keuangan, personal branding dan komunikasi.

“Kita juga ingin melengkapi dengan skill-skill lain yang dibutuhkan oleh seniman untuk berkembang,” ujarnya.

Ketua Dewan Juri 16th UOB Painting of the Year Melati Suryodarmo turut melihat keberagaman pendekatan dalam karya peserta tahun ini. Ia mencatat sejumlah karya mengeksplorasi warna, komposisi, perspektif, persoalan psikologis, serta tema lingkungan dan alam.

“Kebanyakan lukisannya sangat colorful. Kemudian juga main warna, komposisi, terus perspektif lensa. Ada yang lebih bersifat psikologis, jadi berani mengutarakan problem psikologi manusia. Juga lingkungan alam,” katanya.

Ekosistem tersebut juga diperkuat dengan program residency. Salah satunya melalui kesempatan bagi Aurora Arazzi, peraih Gold Award UOB POY 2025 kategori Established Artist, untuk mengikuti UOB-NAFA Studios Residency di Cité Internationale des Arts, Paris.

Melalui rangkaian program tersebut, UOB berupaya membuka jalur bagi seniman Indonesia untuk memperluas pengalaman, jejaring, dan eksposur dari tingkat nasional menuju panggung regional hingga global.

0 comments

    Leave a Reply