BBTF 2026 Bukukan Transaksi Paket Wisata Rp6,9 Triliun | IVoox Indonesia

June 1, 2026

BBTF 2026 Bukukan Transaksi Paket Wisata Rp6,9 Triliun

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa

IVOOX.id – Pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 menutup agenda tiga hari dengan total transaksi Rp6,9 triliun.

“Perkiraan nilai transaksi sebesar Rp6,9 triliun, meskipun ini hasil yang menggembirakan tapi nilai transaksi saja tidak menggambarkan keberhasilan pasar perjalanan, dampaknya terus berlanjut melalui perjanjian bisnis, ekspansi pasar, kemitraan strategis, pengembangan produk, dan peningkatan arus pengunjung ke Indonesia,” kata Ketua Panitia BBTF 2026 I Putu Winastra di Kabupaten Badung, Sabtu (30/5/2026), dikutip dari Antara.

Winastra yang juga Ketua Asita Bali itu merangkum selama 28-30 Mei 2026 ini pembelian paket perjalanan atau kerja sama paling banyak terjalin adalah dengan pasar Asia dan Australia, kemudian pasar baru yang terbuka adalah Afrika Selatan.

“Dari Afrika Selatan beberapa negara datang ke sini, mereka sangat kagum dengan situasi seperti ini, melihat Bali masih tetap menjadi destinasi yang aman dan menarik untuk dikunjungi,” ujarnya.

Meski nilai Rp6,9 triliun dinilai besar, nilai transaksi ini diakui turun dari capaian BBTF 2025 yang sebesar Rp7,84 triliun, namun sudah sesuai dengan ekspektasi tahun ini.

Nilai ini dilandasi oleh berubahnya pasar operator tur yang diharapkan hadir sebagai buyer (pembeli), di mana dari biasanya target penjualan ke negara-negara jauh seperti Eropa dan Amerika, kini berubah menjadi Asia-Pasifik, merespons dinamika konflik geopolitik.

Selain berhasil dengan sasaran baru pasar wisatawan negara terdekat, BBTF 2026 berhasil merangkum tiga realitas bagi industri pariwisata yaitu kepercayaan terhadap Bali dan Indonesia tetap kuat di tengah kompetisi pariwisata global; ekspektasi pasar terus berkembang dimana operator tur internasional mencari destinasi yang menunjukkan profesionalisme; dan daya saing masa depan akan ditentukan oleh kesiapan.

Atas capaian ini, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengapresiasi peran para pelaku perjalanan wisata. Apalagi BBTF 2026 merangkul banyak destinasi luar Bali untuk dipromosikan ke operator tur dari 44 negara.

“BBTF ini luar biasa karena tidak hanya menjual Bali, kalau orang bilang bahwa jangan Bali, Bali, Bali terus, ini saya melihat bagaimana destinasi-destinasi di luar Bali, ada NTB, Belitung, tadi desa-desa wisata dari berbagai daerah dibawa oleh BI, kemudian provinsi lain Jakarta, Manado, luar biasa sekali ini menunjukkan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata unggulan kelas dunia,” kata Wamenpar, dikutip dari Antara.

Wamenpar juga tertarik dengan paket-paket wisata yang ditawarkan sellers (penjual) dari Indonesia yang menarik sehingga menghasilkan transaksi Rp6,9 triliun.

Gubernur Bali Wayan Koster menambahkan bahwa pameran perjalanan wisata ini adalah cara untuk promosi yang efektif untuk pariwisata Bali.

Ia memastikan pada gelaran BBTF ke-13 tahun 2027 nanti, Pemprov Bali akan lebih mendukung dan meminta ke-12 kabupaten/kota bergabung mempromosikan destinasinya.

“Siapkan dari sekarang, evaluasi apa yang kurang, tahun 2027 harus lebih kaya kontennya, saya akan dukung, kolaborasikan dengan bupati/wali kota supaya lebih lebih merasa bertanggung jawab terhadap pariwisata Bali jangan cuma menjadi penikmat PHR saja,” ujar Koster, dikutip dari Antara.

Pelemahan Rupiah Menjadi Peluang

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai kondisi rupiah yang melemah terhadap dolar AS justru menjadi daya tarik wisatawan datang ke Indonesia. “Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata Wamenpar dalam pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung, Sabtu (30/5/2026), dikutip dari Antara.

Ia menilai dengan kurs rupiah saat ini maka wisatawan akan memilih Indonesia untuk dikunjungi, bahkan untuk berwisata dalam waktu lebih lama. Untuk memanfaatkan peluang ini, Kementerian Pariwisata sedang menggencarkan promosi agar semakin banyak wisatawan datang. Mereka melakukan misi penjualan dan mengikuti berbagai pameran dengan harapan semakin meningkatkan jumlah kunjungan ke Indonesia.

“Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” ujar Ni Luh Puspa.

Jika dilihat lebih jauh, ia mengatakan pelemahan rupiah ini berkaitan dengan dinamika geopolitik dan konflik di Timur Tengah. Namun selama Januari hingga Maret 2026, Kementerian Pariwisata melihat situasi kepariwisataan masih terjaga dengan jumlah kunjungan yang meningkat dibanding triwulan 2025.

Harapannya, pada triwulan kedua 2026 nanti, Bank Indonesia dapat mencatatkan hasil positif pula dari sisi kunjungan dan devisa pariwisata.

“Tapi kalau kami lihat dari angka triwulan pertama, memang terlihat bahwa wisatawan dari yang medium-haul dan short-haul ini mengalami peningkatan, tapi beberapa Timur Tengah ini mengalami penurunan,” sambung Ni Luh Puspa.

Untuk menambah kunjungan wisman di tengah situasi global ini, Wamenpar mengajak pelaku usaha pariwisata mulai mengubah pasar, dari yang sebelumnya mentargetkan negara jarak jauh, kini memperkuat kunjungan dari negara-negara tetangga.

“Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” ujarnya.

Untuk itu Wamenpar mengajak pelaku pariwisata tidak pesimistis melainkan terus berkolaborasi dan optimistis meraih pencapaian dari peluang-peluang di setiap situasi.

0 comments

    Leave a Reply