Baru Mulai, Tahu-Tahu Mau Lebaran: Kenapa Ramadan Terasa Ngebut Banget? | IVoox Indonesia

21 Februari 2026

Baru Mulai, Tahu-Tahu Mau Lebaran: Kenapa Ramadan Terasa Ngebut Banget?

Flat vector illustration of a person standing on a giant clock face  The clock h

IVOOX.id, Jakarta - Setiap tahun keluhannya hampir sama. Baru saja menata niat di awal Ramadan, tiba-tiba sudah masuk sepuluh hari terakhir. Notifikasi promo mudik mulai bermunculan, grup keluarga ramai membahas menu Lebaran, dan kita pun spontan berkata, “Kok cepat banget?”

Perasaan bahwa Ramadan berjalan lebih singkat dibanding bulan lainnya ternyata bukan sekadar sugesti. Sejumlah kajian psikologi menjelaskan bahwa persepsi manusia terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh emosi, rutinitas, dan makna personal.

Ketika seseorang menjalani periode yang dianggap penting atau penuh arti, otak tidak memprosesnya seperti hari biasa. Ia lebih fokus pada pengalaman dan momen yang terasa menonjol, bukan pada hitungan harinya.

Ramadan termasuk fase yang sarat makna, terutama bagi milenial dan Gen Z yang hidup dalam ritme cepat. Dalam satu hari saja, ada sahur sebelum matahari terbit, aktivitas kerja atau kuliah, ngabuburit, berbuka, hingga tarawih di malam hari. Jadwal terasa lebih padat dibanding bulan lain. Dalam teori manajemen waktu, semakin penuh aktivitas seseorang, semakin kecil ruang untuk merasakan jeda. Ketika hampir tidak ada momen “bosan”, waktu cenderung terasa melaju lebih cepat.

Selain itu, ada efek ekspektasi menuju Lebaran. Sejak hari pertama puasa, banyak orang sudah membayangkan momen akhir: THR, libur panjang, mudik, atau sekadar berkumpul bersama keluarga. Dalam perspektif psikologi kognitif, fokus yang terlalu kuat pada tujuan akhir membuat perjalanan terasa lebih singkat. Perhatian tersedot ke garis finish, bukan ke langkah-langkah kecil di sepanjang jalan.

Bagi generasi yang akrab dengan dunia digital, ada faktor tambahan yang mempercepat sensasi waktu. Linimasa media sosial bergerak cepat dengan konten bertema Ramadan: rekomendasi takjil, jadwal kajian, diskon e-commerce, hingga konten tentang sahur dan berbuka. Paparan informasi yang konstan menciptakan kesan hari-hari yang dinamis dan padat. Tanpa terasa, pekan demi pekan berlalu di antara scroll dan swipe.

Namun ada sisi emosional yang lebih sederhana. Sesuatu yang terasa hangat dan bermakna sering kali dikenang sebagai momen yang singkat. Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda seperti ritme hidup yang lebih reflektif, kebersamaan yang lebih terasa, dan kesempatan untuk memperlambat diri dari hiruk-pikuk keseharian. Ketika sebuah fase memberikan rasa nyaman dan kedekatan, wajar jika kita merasa ia terlalu cepat berlalu.

Pada akhirnya, mungkin yang membuat Ramadan terasa singkat bukanlah durasi harinya, melainkan cara kita menjalaninya. Semakin kita sibuk mengejar akhir, semakin cepat prosesnya terasa lewat. Sebaliknya, ketika kita hadir sepenuhnya dalam setiap momen seperti sahur yang sederhana, percakapan saat berbuka, atau jeda sunyi sebelum tidur membuat waktu terasa lebih utuh.

Ramadan memang selalu datang dan pergi dalam hitungan sekitar tiga puluh hari. Tetapi maknanya tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia berlalu, melainkan oleh seberapa sadar kita mengisinya.

Penulis: Maulana Haitami

0 comments

    Leave a Reply