Bank Dunia Optimistis dengan Asia Timur-Pasifik

iVOOXid, Jakarta - Bank Dunia berdasarkan kajian terbarunya bertajuk "The East Asia and Pacific Economic Updates" menyatakan rasa optimistis dan prakiraan yang positif terhadap perkembangan perekonomian di kawasan Asia Timur-Pasifik, termasuk Indonesia.
"Pemulihan ekonomi global dan ekspansi perdagangan global adalah berita yang bagus bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik yang terus sukses dalam memperbaiki kondisi kehidupan warganya," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur-Pasifik, Victoria Kwakwa, dalam rilis, Sabtu (7/10/2017).
Menurut dia tantangan yang ada saat ini bagi negara-negara di kawasan tersebut adalah menyeimbangkan antara tujuan pertumbuhan ekonomi jangka pendek dengan mengurangi kerentanan dalam jangka menengah, sehingga kawasan itu memiliki fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kajian Bank Dunia menunjukkan bahwa sejumlah prakiraan positif dan optimistis untuk negara berkembang di kawasan itu dapat dilihat antara lain dari adanya kenaikan moderat dari harga komoditas, serta pemulihan dari pertumbuhan perdagangan global yang merupakan faktor eksternal menguntungkan Asia Timur-Pasifik.
Namun demikian, lembaga keuangan multilateral itu juga mengingatkan sejumlah risiko eksternal dan domestik dapat membalikkan kondisi positif itu, seperti ketegangan geopolitik yang meningkat serta kebijakan moneter AS dan Uni Eropa yang kemungkinan bakal diperketat lebih cepat dari prakiraan sebelumnya.
Selain itu, Bank Dunia juga mengingatkan banyak negara di kawasan Asia-Pasifik yang memiliki tingkat utang sektor swasta yang tinggi, sedangkan defisit fiskal juga dinyatakan sedang naik.
Sejumlah negara seperti Thailand dan Malaysia diprediksi tumbuh lebih cepat dari yang diharapkan antara lain karena ekspor yang menguat, serta penampilan yang baik dari sektor pariwisata.
Sementara sektor pertanian dan manufaktur Vietnam diperkirakan bakal kembali menguat, serta laju pertumbuhan ekonomi di Filipina diprediksi bakal melambat karena tertundanya penerapan sejumlah proyek investasi publik.
Sedangkan Indonesia disorot dengan tingkat konsumsinya yang menguat, serta menekankan pentingnya liberalisasi regulasi untuk investasi asing.
Sebagaimana diwartakan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pembenahan regulasi yang selama ini dilakukan pemerintah telah memberikan perbaikan daya saing dan mendorong investasi.
"Indikator yang makin membaik itu menggambarkan bahwa peraturan-peraturan sudah memberikan ruangan yang lebih 'simple' sehingga 'confidence' dan investasi bisa berjalan," kata Sri Mulyani seusai menghadiri acara peluncuran Laporan Ekonomi Triwulan Bank Dunia terbaru di Jakarta, Selasa (3/10).
Sri Mulyani memberikan apresiasi atas naiknya peringkat daya saing Indonesia dari posisi 41 ke 36 dalam Global Competitiveness Index 2017-2018 yang dipublikasikan Forum Ekonomi Global (WEF), karena penilaian itu memperlihatkan bahwa proses deregulasi untuk mendorong investasi mulai memberikan dampak. (ant)

0 comments