Aprisindo Dorong Tarif Resiprokal AS untuk Alas Kaki Lebih Rendah demi Jaga Daya Saing dan Lapangan Kerja

IVOOX.id – Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda menegaskan bahwa industri alas kaki nasional membutuhkan perlakuan tarif yang lebih kompetitif agar mampu bersaing dengan negara-negara produsen lain. Saat ini sektor padat karya industri alas kaki menghadapi tekanan berat akibat kebijakan tarif impor yang tinggi.
“Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo ) mendukung langkah Pemerintah Indonesia oleh Presiden Prabowo bersama Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi Airlangga Hartato dan jajaran mengupayakan tarif resiprokal ke US lebih rendah mencapai 0 persen atau harus di bawah jauh angka saat ini 19 persen untuk sektor padat karya Industri alas kaki dibandingkan negara pesaing lainnya terutama Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India dan Cina,” ujar Yoseph dalam pernyataan resminya Sabtu (2/1/2026).
Saat ini, pemerintah dikabarkan hampir merampungkan perjanjian tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat. Namun, dalam skema yang berkembang, tarif nol persen disebut baru akan diberlakukan untuk komoditas sumber daya alam berbasis tropis. Sementara itu, sektor manufaktur padat karya seperti industri alas kaki masih dikenakan tarif tinggi.
Aprisindo mencatat, berdasarkan informasi dari anggotanya, tarif resiprokal untuk produk alas kaki ke pasar AS telah resmi berada di angka 19 persen sejak 7 Agustus 2025. Sebelumnya, tarif berada di kisaran 10 persen, sementara pada periode April hingga Juli 2025 sempat muncul wacana kenaikan tarif hingga 32 persen yang membuat pelaku industri berada dalam kondisi waspada.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor alas kaki Indonesia ke Amerika Serikat pada periode Agustus hingga September 2025 tercatat turun hingga 23,14 persen. Penurunan ini dipicu berkurangnya pesanan akibat tingginya tarif masuk, yang pada akhirnya menekan produktivitas dan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja, situasi yang sebelumnya telah lebih dulu terjadi di sektor tekstil.
APRISINDO menilai ada sejumlah alasan faktual mengapa tarif alas kaki Indonesia ke AS seharusnya lebih rendah, bahkan mendekati nol persen. Kenaikan upah pekerja nasional yang masih tinggi, biaya produksi yang mahal mulai dari energi, bahan baku impor hingga perizinan, serta belum rampungnya ratifikasi perjanjian Indonesia–IEU–CEPA hingga kuartal pertama 2027 menjadi tantangan tersendiri bagi industri.


0 comments