Analisa Ahli BRIN dan ITS Terkait Insiden Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 | IVoox Indonesia

Analisa Ahli BRIN dan ITS Terkait Insiden Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8

KMP Virgo Transport 8
KMP Virgo Transport 8 (ANTARA/HO-Medcen Kalsel)

IVOOX.id – Sejumlah analisa ahli dari berbagai lembaga dan peneliti mencoba menjelaskan pemicu insiden kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 yang mengangut 243 penumpang dan dilaporkan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu, 13 September 2026

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Widodo Setiyo Pranowo mengungkapkan hasil analisa menunjukkan kondisi laut di lokasi kejadian bergelombang. Namun, ia menyebutkan tinggi gelombang saat kejadian pada kategori sedang dan tidak termasuk gelombang ekstrem.

"Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25–2,50 meter). Kategori tinggi dimulai pada 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter," kata Widodo dalam keterangan di Jakarta, Selasa (15/9/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengungkapkan kondisi gelombang pada malam kejadian didominasi gelombang yang dibangkitkan oleh angin setempat, sekitar 96 persen dari tinggi total, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh.

"Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan sekitar 6,4–8,3 meter per detik atau 12–16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4–5," ucapnya.

Ia menyebutkan gelombang datang dari arah tenggara-timur, sekitar 122 derajat, sehingga secara geometris mengenai kapal dari arah samping atau beam seas. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kapal mengalami gerakan oleng secara berulang.

Analisa dinamika kapal memperkirakan periode gelombang sekitar 5,66–6,47 detik, sedangkan periode alami oleng kapal dengan ukuran panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter berada pada kisaran 11–18 detik berdasarkan rentang parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian.

Perbedaan periode tersebut menunjukkan tidak terbentuk penguatan oleng melalui resonansi dalam skenario yang dianalisis.

Dengan parameter kajian yang tersedia, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan 5,9 derajat pada kondisi umum dan 11,2–11,9 derajat pada pembebanan gelombang tertinggi. Kontribusi angin terhadap kemiringan diperkirakan kurang dari setengah derajat.

"Angka-angka ini berada di bawah ambang kemiringan sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak, serta jauh di bawah kisaran 50–60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak," katanya.

Selain analisa kondisi gelombang, Widodo menuturkan kajian tersebut menghasilkan temuan yang dapat menjadi masukan bagi operasi pencarian.


Komponen hanyut Stokes yang dibangkitkan gelombang diperkirakan menyumbang rata-rata 41,2 persen dari arus permukaan total.

Dengan demikian, prakiraan hanyut yang tidak memperhitungkan komponen gelombang berpotensi menghasilkan estimasi lintasan hanyut yang berbeda.

Arus di lokasi kejadian juga berbalik arah mengikuti siklus pasang surut sekitar 24 jam. Kondisi tersebut perlu diperhitungkan dalam pembaruan area pencarian dari satu siklus ke siklus berikutnya.

"Kedalaman laut di titik kejadian sekitar 27 meter. Kondisi kedalaman tersebut memungkinkan survei bangkai kapal menggunakan multibeam echosounder, side-scan sonar, remotely operated vehicle (ROV), maupun penyelaman, sesuai prosedur dan kewenangan pihak yang melakukan pencarian serta penyelidikan," ucapnya.

Ia mengatakan kajian ini bukan sebagai investigasi kecelakaan dan tidak dimaksudkan untuk menetapkan penyebab tunggal.

Kajian ini disusun sebagai analisa ilmiah independen berbasis data model operasional kelautan internasional untuk memberikan dasar ilmiah tambahan bagi penyelidikan resmi.

"Penyelidikan kecelakaan tetap menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan otoritas pelayaran. Karena itu, hasil kajian tidak dimaksudkan untuk menentukan penyebab tunggal maupun menetapkan pihak yang bertanggung jawab," demikian Widodo Setiyo Pranowo.

Analisa Pakar dari ITS

Terpisah, pakar Lingkungan Laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Dr Eng Kriyo Sambodho ST mengungkap kondisi perairan di sekitar lokasi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 beberapa waktu lalu.

Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS tersebut mengatakan kondisi perairan di wilayah Kepulauan Masalembu tergolong dinamis, karena dipengaruhi angin muson barat dan timur serta proses transformasi gelombang.

“Ketinggian gelombang yang mencapai 2 meter saat itu sangat mungkin membuat kapal tidak stabil,” kata Kriyo, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026), dikutip dari Antara.

Berdasarkan data yang tersedia, kondisi tersebut termasuk adverse marine conditions atau kondisi laut yang kurang mendukung, meskipun tidak masuk kategori cuaca ekstrem menurut klasifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Data hidrometeorologi di sekitar lokasi menunjukkan kecepatan angin tenggara berada pada kisaran 18-20 knot sepanjang periode pengamatan. Embusan angin tercatat mencapai 27-30 knot.

Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang signifikan yang meningkat dari sekitar 1,7 meter menjadi dua meter.

Menurut dia, kombinasi kondisi lingkungan tersebut perlu diperhatikan dalam melihat stabilitas kapal.

“Selain tinggi gelombang, arah angin dan gelombang terhadap posisi kapal dapat menjadi faktor yang mempengaruhi respons kapal ketika berlayar di perairan terbuka,” ujarnya.

Ia menambahkan periode gelombang di sekitar lokasi kejadian berada pada kisaran 7-8 detik dengan arah gelombang dari tenggara.

Sementara itu, arus laut permukaan tercatat sekitar 1,0-1,2 knot yang bergerak ke arah barat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perairan di sekitar lokasi memiliki dinamika yang perlu diperhitungkan dalam aspek keselamatan pelayaran.

Apabila terdapat dugaan masuknya air ke dalam kapal, lulusan doktor dari Kyoto University, Jepang itu menyebut salah satu bagian yang perlu diperiksa adalah ramp door.

Pintu berukuran besar tersebut berfungsi sebagai akses keluar masuk kendaraan dan muatan ke dalam kapal, sehingga kondisinya perlu menjadi bagian dari pemeriksaan teknis.

Selain kondisi laut, katanya lagi, kemungkinan kegagalan mesin juga tidak dapat diabaikan. Namun, dosen Laboratorium Hidrodinamika Lepas Pantai ITS itu menilai berbagai kemungkinan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan sebelum dilakukan investigasi lebih lanjut.

Investigasi diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian secara menyeluruh, termasuk dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan aspek teknis kapal.

Ia juga mengingatkan agar tragedi KM Virgo Transport 8 tidak dikaitkan dengan sebutan Segitiga Bermuda Indonesia yang ditujukan untuk perairan Kepulauan Masalembu.

“Penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Sementara, pakar hidrodinamika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama menyoroti aspek performa kapal di laut (seakeeping) dalam insiden terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di Kepulauan Masalembu, Sumenep, Jatim.

Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS itu mengatakan kesesuaian desain kapal dengan karakteristik perairan perlu menjadi perhatian, terutama dalam perancangan kapal yang beroperasi di Indonesia.

"Perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi," tutur Prof Ketut di Surabaya, Jatim, Selasa (15/9/2026), dikutip dari Antara.

Menurut Ikap, sapaan Prof Ketut, aspek seakeeping atau kemampuan kapal menghadapi kondisi gelombang kerap kurang diperhatikan, sehingga dapat memicu persoalan stabilitas dan kenyamanan gerak kapal saat beroperasi.

KM Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal impor asal Jepang yang telah berusia sekitar 30 tahun.

Namun, Ikap menyebut usia kapal tidak semestinya menjadi persoalan utama selama perawatan dilakukan dengan baik.

Ia menjelaskan karakteristik perairan Jepang berbeda dengan Indonesia.

Jarak antarpulau di Jepang relatif dekat, sedangkan Indonesia memiliki wilayah perairan terbuka dengan potensi gelombang besar.

"Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda," katanya.

Menurut Ikap, kapal feri dengan model roll-on/roll-off (roro) dari negara empat musim umumnya memiliki lambung tertutup penuh.

KM Virgo Transport 8 juga merupakan kapal jenis roro.

Sementara itu, kapal yang beroperasi di Indonesia kerap memiliki bukaan pada sisi samping untuk menghemat energi sekaligus mengurangi beban pajak ruang tertutup (enclosed space) yang berisiko terhadap stabilitas kapal.

Ketut juga menyebut kemungkinan masuknya air dalam jumlah besar ke badan kapal akibat cuaca buruk, gelombang tinggi, atau pintu ramp door yang tidak tertutup rapat maupun tidak kedap air.

Air yang masuk ke dek kapal tanpa sistem pompa memadai dapat menimbulkan efek permukaan bebas atau sloshing effect yang menyebabkan kapal bergoyang tidak stabil.

"Risiko ini semakin diperparah jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan benar, sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis," ujar Ikap.

Selain faktor teknis, ia menilai keselamatan penumpang juga perlu menjadi perhatian melalui edukasi dan prosedur keselamatan sebelum kapal berangkat.

"Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri guna mengantisipasi situasi darurat di tengah laut yang tidak terduga," ujar Prof Ketut.

0 comments

    Leave a Reply