Analis Sebut Kenaikan Suku Bunga BI Jadi Sinyal Kuat Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global | IVoox Indonesia

June 21, 2026

Analis Sebut Kenaikan Suku Bunga BI Jadi Sinyal Kuat Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

antarafoto-nilai-tukar-rupiah-terendah-terhadap-dolar-as-1780481925-1
Nasabah melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pada perdagangan Rabu (3/6) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp17.975 yaitu paling rendah dari rekor terendah sebelumnya. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

IVOOX.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen mencerminkan langkah tegas otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Kebijakan tersebut menandai kenaikan suku bunga ketiga secara beruntun dalam dua bulan terakhir. Secara kumulatif, BI telah melakukan pengetatan kebijakan moneter sebesar 100 basis poin sejak April 2026. Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap tekanan eksternal yang memengaruhi pasar keuangan domestik, terutama pelemahan rupiah dan meningkatnya risiko global.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan, fokus utama dari kenaikan suku bunga kali ini masih berkaitan erat dengan upaya menjaga stabilitas eksternal Indonesia, khususnya penguatan nilai tukar rupiah.

“Kenaikan suku bunga ini terutama bertujuan mendukung apresiasi rupiah dan menjaga stabilitas eksternal. Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah mulai menunjukkan pemulihan dan menguat ke sekitar Rp17.730 per dolar AS secara month to date,” ujar Jessica dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Jumat (19/6/2026).

Selain nilai tukar, BI juga dinilai mulai mewaspadai potensi tekanan inflasi domestik. Hal itu terlihat dari meningkatnya Wholesale Price Index (WPI) menjadi 5,76 persen secara tahunan pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi inti di luar komponen emas juga naik menjadi 1,63 persen, dari 1,36 persen pada April 2026.

Menurut Mirae Asset, langkah BI juga didukung oleh kondisi pasar obligasi yang semakin menarik bagi investor. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang meningkat dinilai menjadi faktor penopang masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan nasional.

Hingga 18 Juni 2026, yield SBN tenor 10 tahun tercatat naik sekitar 92 basis poin sejak awal tahun ke level 7 persen. Sementara itu, yield tenor dua tahun meningkat menjadi 7,08 persen. Kenaikan imbal hasil ini dipandang memperkuat daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketatnya likuiditas global.

Tak hanya mengandalkan instrumen suku bunga, BI juga memperkuat stabilisasi rupiah melalui sejumlah kebijakan pendukung, antara lain pemberian diskon biaya hedging swap bagi investor asing serta pembukaan kembali fasilitas lelang repo dengan berbagai tenor. Kebijakan ini menunjukkan bahwa bank sentral berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas kurs, likuiditas pasar, dan daya saing instrumen keuangan dalam negeri.

“Penurunan cadangan devisa sejak awal tahun menunjukkan bahwa suku bunga akan menjadi instrumen yang semakin penting dalam menjaga stabilitas eksternal. Karena itu, BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali muncul,” katanya.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, arah kebijakan moneter global, serta tren inflasi domestik. Selama tekanan eksternal belum mereda, stabilitas rupiah diperkirakan akan tetap menjadi fokus utama kebijakan Bank Indonesia.

0 comments

    Leave a Reply