Analis Sebut BI Berpeluang Naikkan Suku Bunga hingga 6,5 Persen Demi Jaga Daya Tarik Rupiah

IVOOX.id – ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan daya tarik aset rupiah perlu terus dijaga agar aliran modal asing tetap masuk ke pasar domestik. Menurutnya, selisih imbal hasil atau spread yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan kajian UOB, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan masih terbuka. Secara historis, spread sekitar 300 basis poin dinilai cukup ideal untuk menjaga daya saing aset keuangan Indonesia dibandingkan negara lain.
"Diperkirakan Bank Indonesia masih akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, sehingga suku bunga acuan berpotensi mencapai sekitar 6,5 persen hingga akhir 2026," ujar Enrico di Jakarta, Kamis (17/7/2026).
Ia menjelaskan, proyeksi tersebut masih berada dalam batas yang wajar karena Indonesia pernah berada pada level suku bunga serupa dalam periode 2018 hingga 2023. Dengan demikian, kenaikan suku bunga dipandang bukan sebagai kebijakan yang di luar pola historis.
Meski begitu, Enrico mengingatkan bahwa proyeksi tersebut sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Menurutnya, arah suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih menjadi faktor eksternal utama yang memengaruhi ruang gerak kebijakan Bank Indonesia.
Ia menilai, apabila bank sentral Amerika Serikat memutuskan menaikkan suku bunga lebih agresif dari perkiraan pasar, maka tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi meningkat sehingga memerlukan respons kebijakan yang lebih berhati-hati.
Di sisi lain, Enrico berpandangan bahwa kenaikan suku bunga acuan tidak selalu berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kondisi likuiditas perbankan Indonesia hingga saat ini masih berada pada level yang memadai untuk mendukung aktivitas pembiayaan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada ketersediaan likuiditas, melainkan bagaimana dana tersebut dapat tersalurkan secara optimal ke sektor-sektor produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Berdasarkan analisis kami, terdapat beberapa sektor yang masih memiliki prospek keuntungan yang baik dan layak mendapatkan tambahan pembiayaan antara lain sektor manufaktur, ekonomi kreatif, serta akomodasi dan pariwisata," katanya.
UOB menilai, dengan kombinasi kebijakan moneter yang tepat serta penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor potensial, stabilitas nilai tukar rupiah dapat tetap terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global yang masih berlangsung.


0 comments